Makalah Tumbuhan Paku

BAB I

PENDAHULUAN

Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah, karena meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus, serta mempunyai sistem pembuluh tetapi blm menghasilkan biji, dan alat perkembangbiakan yang lain. Alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Jadi penempatan tumbuhan paku ke dalam golongan tingkat rendah atau tinggi bisa berbeda-beda tergantung sifat yang digunakan sebagai dasar. Jika didasarkan pada macam alat perkembangbiakannya, maka sebagai tumbuhan berspora tergolong tumbuhan tingkat rendah. Namun, jika didasarkan pada ada atau tidaknya sistem pembuluh, tumbuhan paku dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi karena sudah mempunyai berkas pembuluh (Tjitrosoepomo,1994).

Meskipun tumbuhan paku mempunyai akar, batang dan daun, tetapi untuk yang primitif daunnya masih sangat sederhana. Tumbuhan paku belum mempunyai lamina dan masih dinamakan mikrofil. Anggota dari Pteridophyta mempunyai habitus yang heterogen, dari yang berukuran kecil sampai yang besar (Tjitrosoepomo,1994).

Sebagai tumbuhan tingkat rendah, Pteridophyta lbih maju dari pada Bryophyta karena sudah mempunyai berkas pembuluh. Sporofitnya hidup bebas dan berumur panjang, sudah ada akar sejati, dan sebagian sudah merupakan tumbuhan heterospor (Tjitrosoepomo,1994).

Sementara itu, ahli taksonomi yang lain (Eichler,1883) juga membagi tumbuhan menjadi dua kelompok berdasarkan atas letak alat-alat kelaminnya, yaitu:

  1. Cryptogamae: Tumbuhan yang alat perkawinannya tersembunyi di dalam. Yang termasuk kelompok ini adalah Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta dan Pteridophyta. Kelompok ini juga bisa dianggap sebagai golongan tumbuhan tingkat rendah.
  2. Phanerogamae: Tumbuhan yang alat perkawinannya terihat mencolok. Yang termasuk kelompok ini adalah Spermatophyta yang juga dapat dianggap sebagai golongan tumbuhan tingkat tinggi.

Selanjutnya kelompok Cryptogamae itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua golongan yang didasarkan atas ada atau tidaknya sistem pembuluh, yaitu:

  1. Non-vascular Cryptogamae, termasuk dalam golongan ini yaitu Schizophyta, Thallophyta dan Bryophyta.
  2. Vascular Cryptogamae, termasuk dalam golongan ini yaitu Pteridophyta.

Seperti halnya dengan Bryophyta, di dalam siklus hidup Pteridophyta juga terdapat pergantian generasi. Individu yang menghasilkan gamet diberi nama gametofit dan merupakan generasi yang haploid. Setelah terjadi fertilisasi akan terbentuk zigot yang merupakan permulaan dari keturunan (generasi) yang diploid. Kemudian dari sini terbentuk individu yang diploid dan diberi nama sporofit. Sporofit merupakan individu yang menghasilkan spora melalui pembelahan reduksi. Jadi, spora ini merupakan permulaan dari generasi yang haploid. Dari spora ini akan terbentuk protalium (protalus) melalui perkecambhan dari spora (Suisetijiono,2011).

Perbedaannya dengan Bryophyta ialah, pada tumbuhan paku yang dikenal sebagai tumbuhannya adalah aporofit, sedangkan pada tumbuhan lumut, yang dikenal sebagai tumbuhannya adalah gametofit. Kemudian beberapa tumbuhan paku ada yang bersifat heterospor sehingga dijumpai adanya makrogametofit dan mikrogametofit. Selain dari pada itu sporofit dari tumbuhan paku dapat hidup bebas, hanya pada tingkatan permulaan dari pertumbuhannya saja bergantung secara fisiologis dan gametofit (Sulisetijono,2011).

Pada Pteridophyta juga dimungkinkan terjadi penyimpangan dari siklus hidup yang normal, yaitu adanya peristiwa apogami dan apospori. Apogami ialah terbentuknya sporofit langsung dari gametofit tanpa melalui persatuan dari gamet-gamet. Sporofit yang terjadi dari peristiwa apogami mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan gametofit. Terjadinya apogami disebabkan karena terbentuknya tunas pada protalium yang langsugn tumbuh menjadi sporofit, atau karena sel telur yang tumbuh menjadi sporofit tanpa terjadi fertilisasi terlebih dahulu (partogenesis). Peristiwa apogami ini dapat terjadi pada jenis Dryopteris, Pteris, Adiantum, diplazium, Asplenium, Osmunda, Lycopodium, Equisetum dan Polypodium (Sulisetijono,2011).

Apospori ialah terbentuknya protalium dari sporofit tanpa melalui pembentukan spora. Protalium yang terjadi dari peistiwa apospori juga mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan sporofit. Terjadinya apospori dapat disebabkan karena timbulnya filamen dari jaringan sporofit yang kemudian menjadi protalium serta hanya membentuk anteridium karena biasanya tidak membentuk arkegonium, atau disebabkan karena jaringan sporofit yang dapat membentuk protalium tadi kemungkinan dari tangkai sporangium, dari daun dan juga dari jaringan steril pada sorus. Peristiwa apospori dapat terjadi pada jenis Trichomanes, Pteridium aquilium, Asplenium demorphum, Osmunda regalis, Osmunda javanica, Tectaria trifoliata da Pteris cretica (Sulisetijono,2011).

Tumbuhan paku dimasukkan dalam divisi tersendiri yaitu Pteridophyta, yang dapat dibedakan atas beberapa kelas yaitu Psilophytineae, Lycopodiineae, Equisetanae, dan Filicanae. Tippo (1942) dalam Pandey (1977), memasukkan tumbuhan paku daam Tracheophyta bersama Gymnospermae dan Angiospermae (Smith,1972).

Lycopsida, Sphenopsida dan Pteropsida. Wardlaw (1955) dalam Pandey (1977) sependapat dengan Tippo, akan tetapi berdasarkan International Rules of Botanical Nomenclature, istilah filum dan sub-filum digunakan dalam zoologi, maka empat sub-filum tersebut dimasukkan dalam e,pat sub-divisi dengan nama tetap seperti yang telah disebut di atas. Sedangkan menurut Smith (1972) dan Vasisht (1972), paku-pakuan terbagi atas empat divisi, yaitu Psilophyta, Lepidophyta atau Lycophyta, Calamophyta atau Sphenophyta atau Arthrophyta dan Pterophyta atau Filicophyta (Smith,1972).

Menurut Backer (1939), berdasarkan habitatnya, tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

  • Paku Tanah

Tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini iaah paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok dan tebing terjal. Holtum (1968) merinci paku tanah menjadi dua bagian yaitu:

  1. 1.    Paku Pemanjat, Tumbuhan ini mempunyai rimpang yang ramping dan panjang, berakar dalam tanah,memanjat pohon tapi tidak epifit. Beberapa contohnya adalah Bolbitis heteroclita Ching, Lomagramma J. Smith, Teratophyllum Mettenius, Lindsaya macracana.
  2. 2.    Paku batu-batuan dan tebing sungai, Tumbuhan paku jenis ini tumbuh pada batu-batuan atau pada tebing sungai, menyukai kelembaban. Rimpangnya menjalar pada permukaan batuan dan akar-akarnya masuk ke celah-celah batu. Contohnya yaitu Pteris sericea Ching, Dipteris lobbiana (Hk.) Moore, Lindsaya lucida Bl., L. Nitida Bl.
  • Paku Epifit

Jenis tumbuhan ini hidup pada tumbuhan lain, terutama yang berbentuk pohon. Holtum (1968) membagi paku epifit menjadi dua macam yaitu:

  1. Epifit pada tempat-tempat terlindung, tumbuhan ini tumbuh pada bagian bawah pohon di hutan terutama dekat aliran air atau di tempat-tempat yang dibayangi pegunungan. Contohnya antara lain anggota Hymenophyllaceae, Antrophyum callifolium Bl., Asplenium tenerum Forst.
  2. Epifit pada tempat-tempat terbuka, tumbuhan ini terdapat pada tempat yang terkena sinar matahari langsung atau agak teduh dan tahan terhadap angin. Contohnya antara lain: Drynaria J. Smith, Asplenium nidus L., Platycerium Desvaux, Pyrrosia Mirbel, Drymoglossum Presl.
  • Paku Akuatik

Tumbuhan yang termasuk kelompok ini mengapung bebas di permukaan air. Contohnya ialah anggota famili Salviniaceae dan Marsileaceae.

Selain itu terdapat juga tumbuhan paku yang sebagian hidupnya berada pada air, misalnya Acrosticum aureum L. Pada daerah mangrove Tectaria semibinnata (Wall.) C. Chr. Pada daerah pasang surut, Ceratopteris thalictroides Brongn. Pada perairan dangkal.

Hampir semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Tetapi ada pula yang berupa pohon, misalnya pada anggota Cyatheaceae (Haupt, 1953). Pada umumnya akar dari tumbuhan paku adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom. Ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Namun tidak semua tumbuhan paku mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales, fungsi akarnya digantikan oleh rizoid.

Letak akar dari tumbuhan paku bermacam-macam, antara lain pada sepanjang bagian bawah rimpang yang menjalar, misalnya Lycopodium, pada seluruh permukaan rimpang, misalnya pada Pteris biaurita, pada pangkal rimpang yang tegak, misalnya Adiantum, pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya, misalnya Marsilea crenata. Akar pada Selaginellales terbentuk pada ujung rizofora yaitu percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang (Haupt,1959).

Bentuk akar ada yang tipis, keras atau kasar, ada pula yang tebal dan berdaging, misalnya pada bangsa Marattiales. Warnanya ada yang hitam atau coklat tua (Vasishta,1972).

Semua batang tumbuhan paku cenderung berupa rimpang karena pada umunya arah tumbuhnyamenjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak, misalnya pada Cyatheaceae. Diantara beberapa jenis tumbuha paku (yang termasuk Equisetaceae, Lycopodiaceae, dan Psilotaceae), disamping mempunyai rimpang juga mempunyai cabang dengan arah tumbuh tegak atu menggantung. Sedangkan batang pada Selaginellaceae arah tumbuhnya menjalar atau tegak (Backer,1939).

Permukaan tumbuhan paku tidak selalu halus, tetapi kadang dihiasi dengan bentukan tertentu. Diantara bentukan tersebut yaitu:

  1. Duri, misalnya pada Teratophillum Mettenius
  2. b.    Rambut-rambut uniseluler, misanya pada Selaginella braunii, S. biformis, S. vogelii.
  3. c.    Ramenta, Bentukan seperti rambut yang terletak pada rimpang atau sering pula pada tangkai daun, tulang dan urat daun, juga dapat berbentuk perisai, misalnya pada Lycopodium L.
  4. d.    Lapisan lilin yang berwarna putih atau kebiruan, misalnya pada Davallia corniculata
  5. e.    Lubang-lubang yang biasanya ditempati semut
  6. f.      Sisa-sisa tangkai

Daun tumbuhan paku terbagi menjadi bermacam-macam bagian. Berdasarkan tulang daunnya, dapat dibedakan:

  1. Sisik, daun ini tidak mempunyai tulang daun meskipun pada pangkal masing-masing daun dihubungkan dengan jaringan pembuluh, mislanya anggota Psilotales.
  2. Mikrofil, daun ini mempunyai tulang daun tunggal tak bercabang dari pangkal ke ujung, misalnya anggota Lycopodiales, Selaginellales dan Equisetaceae.
  3. Makrofil/ Megafil, daun ini mempunyai tulang daun dengan sistem percabangan baik terbuka atau tertutup.

Menurut Tjitrosoepomo (1981) beradasarkan fungsinya, daun tumbuhan paku dibedakan menjadi dua, yaitu:

a)    Tropofil (daun steril), daun yang hanya berfungsi untuk fotosintesis.

b)    Sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis.

Daun tumbuhan paku mempunyai bentuk yang khas, yang berbeda dengan tumbuhan lain, sehingga biasa disebut ental (frond). Tangkai enta disebut tangkai (stipe) untuk membedakan dari tangkai yang lain. Bagian pipih ental sering disebut lamina yang bisa berbentuk tunggal atau terbagi-bagi menjadi beberapa atau banyak anak daun yang tersusun menjari atau sebagian besar menyirip. Tiap anak daun yang menyirip disebut dengan sirip (pinna) dan poros tempat sirip berada disebut rakis (rachis).Tepi anak daun yang terbagi oleh tulang daun di sisi yang menuju ujung ental disebut akroskopi, yang menuju pangkal ental disebut basiskopi (Holttum,1968).

Berdasarkan ukuran daunnya, tumbuhan paku dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a)    Isofil, yaitu daun-daun yang mempunyai ukuran sama atau serupa.

b)    Anisofil, yaitu daun-daunnya terdiri dari 2 ukuran yaitu yang satu lebih besar dari yang lain.

Pada beberapa tumbuhan paku, selain memiliki ciri umum, juga memiliki ciri khusus, antara lain yaitu:

  1. Vernasi bergelung, daun mudanya menggelung, yang akan membuka jika telah dewasa, akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan atas dari pada permukaan pada perkembangan awalnya.
  2. Dimorfisme, antara tropofil dan sporofil terdapat dalam satu individu, berbeda bentuk dan ukurannya saja.
  3. Daun tereduksi, terdapat pada daun yang majemuk menyirip.
  4. Daun sarang, daun ini berukuran cukup kecil, cepat kehilangan hijau daun dan fungsi asimilasinya.
  5. Ligula, Pada bagian bawah daun Pada Selaginella terdapat suatu lembaran kecil yang disebut lidah (ligula) yang berfungsi sebagai penghisap air
  6. Daun penumpu, pada pangkal tangkai daun dari Marattiaceae terdapat sepasang lembaran yang disebut daun penumpu.

Setelah mengetahui ciri umum dan ciri khusus dari tumbuhan paku, maka akan dapat dilakukan sebuah pengamatan tumbuhan paku. Pada pengamatan kali ini, pengamatan dilakukan di Coban Talun, Malang. Pengamatan ini dilakukan pada tangga 18 Maret 2012. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan paku yang ada di Coban Talun.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Marsilea crenata

Irfatun Nihayah (10620105)

                               

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Pteridopsida

Ordo    Salviniales

Famili  Marsileaceae

Genus Marsilea

Spesies   Marsilea crenata

(www.plantamor.com)

Marsilea crenata biasa disebut dengan semanggi. Semanggi adalah sekelompok paku air dari bangsa Salviniales pada marga Marsileaceae. Tumbuhan ini hidup di pematang sawah atau di tepi saluran irigasi. Tumbuhan ini bisa disebut dengan tumbuhan herba karena bisa dimanfaatkan sebagai obat  (Sulisetijono,2011).

Semanggi merupakan salah satu jenis paku air. Bentuk entalnya berbentuk payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Ciri khas dari semanggi atau Marsilea crenata adalah bentuk daunnya yang berbentuk seperti kipas atau jantung terbalik. Warna daunnya hijau muda dengan permukaan halus dan peruratannya sejajar. Letak rimpangnya teretak pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya. Akarnya merupakan percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang. Bentuk akar dari semanggi yaitu serabut, tipis dan kasar. Warnanya coklat muda atau putih kecoklatan  (Sulisetijono,2011).

Batang dari paku ini berupa rimpang dan arah tumbuhnya menjalar. Batangnya panjang berbentuk silinder dan ramping, teksturnya berdaging. Permukaan batangnya licin dan tampak berserat. Batangnya tidak bercabang atau disebut dengan monopodial. Tetapi tumbuhan ini tidak tumbuh tinggi atau hanya setinggi rumput-rumputan yang pendek.

Semanggi mempunyai vernasi bergulung. Daun mudanya bergelung yang akan membuka bila telah dewasa, hal itu disebabkan karena akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun atas daripada permukaan bawah pada perkembangan awalnya (Sulisetijono,2011).

Semanggi bersifat heterospore. Organ penyimpan spora pada semanggi yaitu sporokarp. Terletak di bawah permukaan tanah atau pada akarnya. Sporangium dilindungi oleh indisium, dimana indisiumnya adalah indisium sejati karena bukan terbentuk dari daun yang melengkung (Suisetijono,2011).

Siklus hidup Marsilea crenata disebut dengan tahap metagenesis. Tahapan metagenesis terbagi menjadi dua bagian yaitu:

1. gametofit

Fase gametofit merupakam fase yang sangat dominan untuk jenis paku heterospora. Semanggi memproduksi 2 jenis spora yang berlainan ukuran.untuk ukuran spora yang besar sering disebut dengan makrospora. Sedangknan untuk spora ukuran kecil sering disebut dengan mikrospora.mikrospora yang terdiri haploid akan selanjutnya berkembang menjadi mikroprotalium. Sedangkan makrosopra selanjutnya akan melakukan perkembangan menjadi makroprotalium sebagai calon sel gamet betina. Mikroprotalium yang telah sebelumnya mengalami perkembangan dari mikrospora,selanjutnya akan melakukan perkembangan lagi membentuk calon alat kelamin jantan/ anteridium. Sedangkan sel gamet betina yang sebagai calonya dibentuk dari perkembangan makroprotalium yang selanjutnya akan berkembang menjadi archegonium yang merupakan calon sel gamet betina.

Selanjutnya anteridium akan melakukan perkembangan kembali membentuk sel spermatozoid. Sel spermatozoid yang dihasilkan pada tumbuhan marsilea crenata ukuranya sangat keci,dan memerlukan medium air untuk dapat melakukan pembuahan. Sedangakan pada archegonium selanjutnya akan membentuk sel telur/ ovum sebagai alat kelamin betrina. Ovum dan spermatozoa sebelum dikeluarkan dari spermatogonium dan oo gonium.terdapat kotak soruis yang menyelingkupi keduanya.setelah kedua gamet terbentuk kemudian melanjutkan proses pembuahan antara sel spermatozoid dengan sel telur. Sel spermatozoin haploid dan sel ovum haploid juga. Jadi pada akhir tahap dari gametofit menghasilkan zigot yangt bersifat diploid.

2. Fase sporofit

Fase sporofit dimulai dari perkembangan dari zigot yang memiliki sel diploid melakukan perkembangan dengan membentuk tumbuhan paku heterospora/ Marsila crenata. Perkembangan selanjutnya adlah pembentukan dua jenis spora: yaitu Makrosporofil (ukuran spora yang besar) dan Mikrosporofil(ukuran spora yang kecil).tahap selanjutnya adalah pembentukan makrosporangium dan mikrospongium sebagai tempat pembentukan sel gamet jantan dan sel gamet betina.

Selain dimanfaatkan sebagai obat, semanggi juga bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Dapat diolah sebagai berbagai macam olahan makanan.

 

 

 

 

 

2.2.Adiantum radiannum

Irfatun nihayah(10620105)

                              

 

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Filicopsida

Ordo    Polypodiales

Famili  Pteridaceae

Genus Adiantum

Spesies Adiantum radiannum

(www.plantamor.com)

Adiantum radianum termasuk dalam famili Adiantaceae, atau bisa disebut dengan paku suplir. Daun dari paku ini majemuk dengan ujung daun tidak rata atau bisa dikatakan bergerigi. Tangkai daun berukuran kecil, daun tumbuh langsung dari batang. Daun paku ini berbentuk seperti sisik ikan dan tidak mempunyai tulang daun, meskipun pada pangkalnya terdapat tangkai daun(Sulisetijono,2011).

Daun dari paku suplir termasuk dalam jenis sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis. Warna daunnya hijau muda dan cenderung membulat. Sporangium terletak pada ujung daun, dengan bentuk daunnya tetap sama dengan daun fertil. Daun fertil atau sporofil berfungsi untuk penyebaran spora, oleh karena itu letak sporofil jauh dari permukaan tanah.  (Sulisetijono,2011).

Paku suplir mempunyai batang berbentuk silinder kecil dan ramping berwarna coklat kehitaman. Permukaan batangnya licin, dan pada beberapa spesies batangnya dilapisi oleh lapisan lilin yang berwarna putih kebiruan. Batangnya bercabangdua, atau disebut dengan dikotom. Pada ujung batang terdapat satu daun. Batangnya tumbuh dari rhizoma dalam bentuk melingkar. Percabangan dari paku suplir adalah cabang dikotom.

Paku suplir mempunyai akar serabut berwarna coklat kehitaman. Batangnya tegak ke atas. Paku ini berkembangbiak dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun, tepatnya di ujung daun tanaman yang sudah dewasa. Sorus merupakan kluster-kluster padasisi bawah daun bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium dan dilindungi oleh indisium.

Diantum hidup liar di daerah lembab atau dari tanah. Tetapi sekarang Adiantum juga dapat digunakan sebagia tanaman hias.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3.Aspidium lobatum

Irfatun Nihayah (10620105)

                               

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Pteridopsida

Ordo    Polypodiales

Famili  Polypodiacea

Genus             Aspidium

Spesies   Aspidium lobatum

(www.plantamor.com)

Tanaman ini biasanya hidup pada daerah yang kering dan tandus. Akan tetapi tidak jarang juga ditemukan di daerah yang lembab seperti di pegunungan. Aspidium bisa disebut juga dengan Aculeatum. Aspidium termasuk dalam famii Dryopteridaceae. Tanaman ini termasuk tumbuhan terrestrial. Hidup di atas batu atau tumbuh langsung dari tanah. Aspidium mempunyai daun yang berbentuk lancet. Termasuk daun majemuk dengan tepi daun tidak rata, atau bertoreh. Ujung daunnya meruncing. Daunnya berwarna hijau, tipis, dan lunak. Daunnya mudah sekali layu. 

Batang dari tumbuhan ini berbentuk silinder berdaging berwarna hijau. Batang tumbuh merambat atau tegak, kadang bercabang. Permukaan batangya licin atau halus. Daunnya adalah daun majemuk, dengan tepii daun bertoreh dan ujungnya meruncing. Tangkai daun agak panjang dan sifatnya menyerupai batangnya.

Sori ditanggung oleh pembuluh atau di ujung daun (tetapi biasanya tidak marjinal), atau sporangia acrostichoid, menutupi permukaan abaxial, jika dalam sori diskrit maka terbagi menjadi beberapa bentuk (bulat, lonjong, atau memanjang), tidak mempunyai wadah atau hanya sedikit , dengan atau tanpa indusium dengan berbentuk linier, melengkung lancip, atau reniform, kadang-kadang hoodlike, cuplike, atau indusium bulat. Sporangia dengan tangkai dari 2 – 3 baris sel; anulus vertikal, tertumpu oleh tangkai. Spora 1 jenis, biasanya tidak hijau (kecuali Matteuccia, Onoclea), lonjong atau reniform. Secara garis besar, monolete, berbagai ornamen (sering secara luas bersayap), 64 per sporangium (32 di apogamous spp.). Gametophytes hijau, di atas tanah, berbentuk hati, gundul atau sering bantalan kelenjar atau rambut; archegonia dan antheridia ditanggung pada permukaan bawah, antheridia bersel 3.

BAB III

KESIMPULAN

Tumbuhan paku mempunyai keragaman jenis yang sangat banyak. Dalam satu marga terdapat banyak sekali macam-macam jenisnya. Dari satu marga, spesies yang ditemukan sangat beragam, seperti pada marga Adiataceae, Aspleniaceae, Lycopodiaceae dan lai sebagainya. Hal itu disebabkan karena perbedaan bentuk (walaupun sedikit) pada tumbuhan paku dapat dimungkinkan untuk perbedaan penamaan pula.

Pada pengamatan yang telah dilakukan di Coban Talun, didapatkan sedikitnya ada 30 spesies tumbuhan paku. Spesies-spesies tersebut terbagi dalam beberapa genus. Spesies-spesies tersebut dari genus Adiantum, Equisetum, Lycopodium, Nephrolepis, Platycerium, Drymoglossum, Asplenium, Taenitis, Pyrrosia, Barinea, Selaginella, Marsilea, Bechum, Osmunda, Aspidium, Diplazium, dan Davalia. Namun, pada laporan ini hanya ada 3 spesies yang dapat dibahas karena untuk menjaga kelestarian spesies tersebut.

Selain dari spesies-spesies yang telah disebutkan di atas juga dimungkinkan masih terdapat banyak spesies lain yang ada dan tidak terjangkau oleh pengamat. Oleh karena itu, diharapkan masih ada generasi penerus yang akan mengamati spesies yang lain di Coban Talun atau di tempat-tempat yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

A.R.Smith, A.R.Kathleen M. Pryer, E. Schuettpelz, P.Korall, H. Schneider & P.Gbuh. Wolf.2006. A Classification for Extant Fernshttp://commons.wikimedia.org

Holttum, R.E.1972. Cyatheaceae in Flora Maesiana.Vol.6.Serie II.Groningen: Noordhoff publishing

Sulisetijono,2011.Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang:UIN Press

Tjitrosoepomo,Gembong.1994.Taksonomi Tumbuhan Thallophyta, Schizophyta, Bryophyta, Pteridophyta.Yogyakarta:UGM Press

http://www.plantamor.com/klasifikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s