Makroalga

Sargassum natans

 

Klasifikasi

Kingdom          Protista

Divisi           Paeophyta

Classis   Paeophyceae

Ordo              Fucales

Familia     Sargassaceae

Genus              Sargassum

Spesies     Sargassum sp. (natans,bacciferum, etc)

Habitat

Sargassum terdapat di laut daerah tropis atau subtropis di bagian bumi bagian selatan. Pada umunya Paeophyceae pada umumnya hidup di laut, hanya beberapa saja yang hidup di air tawar. Anggotanya terdiri dari yang berfilamen bercabang sederhana sampai gulma laut yang kompleks, seperti sargassum yang kerumitannya melebihi ganggang-ganggang yang lain. Sebagian besar Paeophyceae merupakan unsur utama yang menyusun varietas laut., seperti sargassum yang jumlahnya mendominasi gulma laut(Sulisetijono,2009:132).

Struktur Tubuh

Biasanya ditemukan berwarna coklat dan berbentuk seperti rumput laut pada umumnya. Tubuhnya berupa Thallus yang multiseluler, lembaran atau yang menyerupai semak yang dapat mencapai ratusan meter panjangnya. Pada umumnya, ukuran panjangnya mencapai 1-3 m. Thallus pada alga ini mempunyai pelekat yang menyerupai akar, dari pelekat ini tumbuh bagian yang tegak dengan bentuk sederhana yang menyerupai batang dan cabang yang menyerupai daun dan juga mempunyai gelembung udara (Air Bladder), (Sulisetijono,2009:132).

Pigmen

Sargassum menyerap cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Pigmen fotosintesis pada alga ini yaitu klorofil A dan klorofil C serta beberapa xantofil seperti fukosantin yang terdiri dari violaxanthin, flavoxanthin, neofukoxanthin a dan neofukoxanthin b. Selain itu juga terdapat betakaroten.

Cadangan Makanan

Cadangan makanan pada alga ini berupa laminarin,yaitu sejenis karbohidrat yang menyerupai dekstrin yang  lebih dekat dengan selulosa daripada zat tepung. Selain laminarin juga ditemukan manitol, minyak dan asam alginat(Tjitrosoepomo,2010:63).

Reproduksi

Reproduksi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu(Sulisetijono,2009:133-134):

  1. 1.    Vegetatif, umumnya dilakukan dengan fragmentasi Thallus
  2. 2.    Sporik

Semua anggota dari Phaeophyceae kecuali anggota dari bangsa fucales melakukan reproduksi secara sporik dengan zoospora atau aplanospora yang masing-masing tidak berdinding. Zoospora dibentuk dalam sporangium bersel tunggal (unilokular) atau bersel banyak (Plurilokular). Pada sporangia terdapat inti yang mengalami pembelahan meiosis dan diikuti pembelahan mitosis. Ketika pembelahan tersebut berhenti maka akan terbentuk protoplas yang akan mengalami metamorfosa menjadi zoospora.

  1. 3.    Gametik

Reproduksi gametik dilakukan secara isogami, anisogami, dan oogami. Gamet biasanya dibentuk dalam gametamia yang prolikuler atau yang unilokuler pada gametofit. Zigot yang terbentuk tidak mengalami masa istirahat dan langsung membentuk sporofit setelah lepas dari gametofit. Pada beberapa bangsa seperti laminariales reproduksinya secara oogami.

Daur Hidup

Pada Paeophyceae terdapat 3 daur hidup, yaitu:

1)    Tipe Isomorfik

Pada tipe ini gametofit dan sporofit mempunyai bentuk dan ukuran yang relative sama satu sama lain. Contoh: Dictyotales dan Ectocarpales.

2)    Tipe Heteromorfik

Pada tipe ini, sporofit berkembang dengan baik dan berukuran makroskopik, sedang gametofitnya berukuran mikroskopik. Berbentuk filamen yang hanya terdiri dari beberapa sel saja. Misalnya, anggota yang tergolong dalam bangsa Laminariales.

3)    Tipe Diplontik

Tipe ini tidak menunjukkan adanya pergantian keturunan. Siklus hidupnya bersifat diplontik. Fase haploid hanya terdapat pada gametnya. Contoh: Fucales.

 

Alat Gerak

Berupa flagel, terletak pada sel – sel perkembangbiakan dan letaknya lateral. Berjumlah 2 yang heterokon dan terdapat di bagian samping badannya yang berbentuk pir atau sekoci. Pada waktu bergerak ada yang panjang mempunyai rambut – rambut mengkilat menghadap kemuka yang pendek menghadap kebeakang. Dekat dengan keluarnya flagel terdapat bintik mata yang berwarna kemerah – merahan(Tjitrosoepomo,2010:38-39).

 

Manfaat Paeophyta

  1. Macrocrystis pyrifera menghasilkan iodine, yaitu unsur yang
    dapat digunakan untuk mencegah penyakit gondok   Macrocystis (alga coklat)
  2. Macrocrystis adalah makanan suplemen untuk herwan ternak karena kaya Na, P, N, Ca.
  3. Laminaria, Fucus, Ascophylum menghasilkan asam alginate sebagai pengental dalam produk makanan (sirup, soklat, permen, salad, keju, es krim) dan pengental dalam industri (lem, tekstil, pelapis kertas, tablet antibiotic, pasta gigi)
  4. Di bidang pertanian sebagai bahan campuran insektisida dan pelindung kayu.
  1. Di industri farmasi sebagai bahan pembuat kapsul obat, tablet, salep, emulsifier, suspensi dan stabilizer.

Daftar Pustaka

Sulisetijono.2009.Bahan Serahan Alga.Malang:UIN

Tjitrosoepomo,Gembong.2010.Taksonomi Tumbuhan Scizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta.Yogyakarta:UGM Press

http://algaebase.org/gambar sargassum natans

Makalah Buah Selasih Dalam Al-Qur’an

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   Latar Belakang

Di alam ini terdapat banyak sekali jenis tumbuhan yang berbeda-beda. Semua tumbuhan mempunyai zat atau kandungan yang bermacam-macam dengan fungsi yang beragam bagi tubuh manusia. Jika diteliti lebih lanjut mengenai khasiat tumbuhan maka tidak terdapat tumbuhan yang tidak mempunyai khasiat medis bagi kesehatan. Seperti dalam firman Allah yang artinya “Tuhan kami tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia”.

Berdasarkan ayat tersebut dapat membuka hati dan pemikiran para ilmuwan untuk terus bereksperimen dan menemukan hal-hal baru yang merupakan ciptaan Allah SWT. Dengan bereksperimen para ilmuwan dapat mengungkap keajaiban besar yang diciptakan oleh Allah dalam ciptaan-Nya walaupun dalam bentuk yang sangat kecil dan dianggap tidak berarti.

Seperti halnya penelitian mengenai tumbuhan kemangi. Tumbuhan kecil tersebut ternyata mempunyai khasiat sebagai obat. Hal itu tidak akan diketahui tanpa adanya penelitian yang fokus pada objek tersebut. Selain itu ternyata tumbuhan kemangi telah digunakan sebagai obat sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan telah disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.

Namun pada masa sekarang ini tidak sedikit ilmuwan yang tidak menyadari bahwa semua itu merupakan ciptaan Allah dan mengakui bahwa itu adalah ciptaannya sendiri. Hal itu jelas dilarang oleh agama Islam. Oleh karena itu kita sebagai calon ilmuwan muslim hendaknya sering melakukan penelitian untuk membuka keajaiban dari ciptaan Allah agar kita senantiasa semakin dekat dan semakin percaya terhadap semua ciptaan Allah SWT.

  1. B.   Tujuan

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui khasiat dan kandungan dari selasih/ kemangi serta menjelaskan mengenai kandungan-kandungan dalam selasih.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.    Klasifikasi dan Gambar Tumbuhan

                     

                 

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Asteridae
                         Ordo: Lamiales
                             Famili: Lamiaceae
                                 Genus: Ocimum
                                     Spesies: Ocimum basilicum L.

                                                                 (www.plantamor.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.    Deskripsi Tumbuhan

Jenis kemangi yang banyak diusahakan adalah jenis lokal yang belum jelas nama/varietasnya. Penampilan tanaman cukup rimbun. Daun berwarna hijau muda. Bunga putih kurang menarik. Bila dibiarkan berbunga maka pertumbuhan daun lebih sedikit dan tanaman cenderung cepat tua dan gampang mati (Tjitrosoepomo,1994:167).

Kemangi tidak menuntut syarat tumbuh yang rumit. Dapat dikatakan semua wilayah di Indonesia bisa ditanami kemangi. Yang jelas tanahnya bersifat asam. Kemangi juga toleran terhadap cuaca panas maupun dingin. Perbedaan iklim hanya mengakibatkan penampilan sedikit berbeda. Kemangi yang ditanam di daerah dingin daunnya lebih lebar dan ebih hijau. Sedangkan kemangi di daerah panas daunnya keci, tipis, dan berwarna hijau pucat.

Kemangi merupakan sejenis tumbuhan yang banyak digunakan dalam masakan terutamanya masakan Indonesia. Kemangi adalah sejenis tumbuhan yang beraroma dan baunya seakan-akan bau serai. Tumbuh rimbun dan mempunyai cabang yang banyak. Daunnya tersusun dalam bentuk pasangan yang berlawanan dan tersusun dari atas dan bawah. Batangnya berbentuk empat segi dan mempunyai bulu-bulu halus yang disebut trikoma. Bunga kemangi tersusun dari pada tangkai bunga yang berbentuk menegak. Bunganya dari jenis hermafrodit (dua kelamin), berwarna putih dan berbau sedikit wangi. Bunga ini akan menghasilkan biji benih kemangi yang banyak dan kecil. Tumbuhan ini berkembangbiak melalui biji dan keratan batang (Adnyana,2007.http://www.anekaplantasia.com).

Kemangi merupakan anggota famili Lamiaceae, yang berarti kelompok tanaman dengan bunga berbibir. Nama genusnya Ocimum yang berarti tanaman beraroma. Aroma khas tersebut muncul dari daunnya. Tanaman tersebut berkerabat dekat dengan daun mint (Mentha arvensis), yang dikenal orang Sunda sebagai karesmen, yang biasa dilalap mentah. Beberapa kerabat kemangi di antaranya tanaman selasih (Ocimum basillicum), dan daun bangun-bangun alias daun jinten (Coleus amboinicus). Tanaman basil inilah yang kemudian menurunkan bermacam-macam varietas kemangi. Daun basil banyak digunakan sebagai bumbu aromatik untuk campuran masakan Italia, seperti saus sphagetti atau saus pizza (Steenis,2006:145).

Kemangi yang ada di Indonesia bernama botani Ocimum basillicum. Karena tumbuhnya menyemak, maka dikelompokkan dalam basi semak (bush basil). Kemangi dalam taksonomi tanaman termasuk ke dalam marga Ocimum yang memiliki 50-150 jenis yang tersebar dari daerah tropis Asia, Afrika sampai Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari sekian banyak Ocimum tersebut, memang hanya beberapa yang telah menjadi komoditas komersial, di antanya yaitu jenis Ocimum americanum, Ocimum sanctum, Ocimum gratisimum, Ocimum basillicum dan beberapa jenis lainnya (Dasuki,1991:137).

 

  1. 3.    Kandungan Kimia

Dari bermacam-macam senyawa yang terdapat dalam Ocimum sp. Minyak atsiri merupakan salah satu komponen yang mendapat perhatian secara komersial. Minyak atsiri ini banyak digunakan sebagai aroma pada makanan, minuman, dan juga digunakan dalam industri parfum. Walaupun termasuk dalam marga yang sama, tetapi kandungan minyak atsiri dari masing-masing jenis berbeda satu sama lain, baik komposisi senyawa penyusun minyak atsiri ataupun kadarnya, karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi produksi minyak atsiri tanaman yang salah satunya adalah tempat tumbuh. Contohnya yaitu senyawa kamfen yang merupakan salah satu senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri, hanya ditemukan pada Ocimum americanum, tetapi  tidak terdapat pada Ocimum basillicum. Sebaliknya, senyawa sineol yang juga kandungan dalam minyak atsiri, terdapat pada Ocimum basilicum tapi tidak terdapat pada Ocimum americanum (Robinson,1991:137).

Perbedaan ini tentu saja akan memberikan perbedaan aroma dan kekuatan efek farmakologi dari masing-masing minyak atsiri dari jenis tanaman tersebut. Ocimum basilicum menempati tempat teratas, paling populer karena selain kandungan minyak atsirinya relatif lebih banyak daibanding yang lain, juga memiliki aroma yang lebih disukai.

Senyawa-senyawa yang banyak ditemukan dalam minyak atsiri ini antara lain 1,8-sineol, trans-beta-ocimen, kamfor, linalool, metil kavikol, geranio, citral eugenol, metil sinamat, meti eugenol, beta-bisabolen, beta-kariopilen. Kandungan utama yang banyak terdapat dalam minyak atsiri yang beredar di pasaran seperti minyak sweet basil adalah linalool dan metil-kavikol. Kandungan lainnya yang juga cukup tinggi adalah eugenol dan 1,8-sineol, selanjutnya dengan kadar yang lebih rendah adalah citral (neral dan geranial) juga ocimen (Adnyana,2007.http://www.anekaplantasia.com).

Beberapa klaim tradisional telah dibuktikan secara ilmiah dengan pengujian farmakologi, di antaranya telah dilakukan pengujian terhadap aktivitas antibakteri, antifungi, larvasida, antiulcer, dan antiseptik. Kebanyakan senyawa bioaktif (senyawa yang berta ggung jawab untuk menghasilkan efek) merupakan senyawa penyusun minyak atsiri ya

 

  1. 4.    Tafsir Al-Qur’an

Firman Allah daam QS. Ar-Rahman:12

               

Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.”

(QS. Ar-Rahman:12)

Dalam shahih Muslim yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

Barangsiapa yang ditawari minyak wangi, jangan ia menolaknya karena minyak wangi itu ringan dibawa tetapi harum baunya”.

Kata al-habb dipahami dalam arti tumbuhan yang merupakan makanan pokok, seperti gandum dan padi. Kata raihan dari kata ra’ihah yakni berarti aroma. Raihan adalah kembang-kembang yang memiliki aroma yang harum, seperti Ros, Yasmin, Kemuning dan lain-lain. Ada juga yang memahami kata tersebut dalam arti daun yang hijau yakni sebagai antonim dari al-‘ashf/daun yang kering (Shihab,2002:502).

Raihan atau ruku-rukuan/daun kemangi adalah tumbuhan yang wangi dan berbau harum. Oleh karena itu kalangan barat menyebutnya ais. Itulah yang dikenal dikalangan orang-orang Arab sebagai raihan, orang-orang Iraq dan Syam menyebutnya habaq(Abdul Fattah,2004:68).

Di muka bumi ini terdapat pula biji-bijian yang menjadi bahan makanan pokok, seperti gandum, padai dan lain-lain, serta mempunyai tungku-tungku yang kering. Juga terdapat berbagai macam tumbuhan yang harum bunganya. Allah menjadikan bagi kita berbagai macam buah, istimewa pohon kurma dan berbagai macam bijian yang mempunyai jerami untuk bahan pakan hewan dan yang mempunyai isi untuk menjadi rezeki kita (Hasbi,2003:4052).

Allah telah memudahkan kehidupan bagi manusia di bumi. Bumi berputar membawa mereka seraya mengitari matahari, bergerak bersama matahari dan planet-planetnya dengan kecepatan yang menakjubkan. Dia memberikan berbagai makanan sebagai kekuatan untuknya di bumi seperti buah-buahan, terutama kurma yang memiliki kelopak mayang guna menunjukkan keindahan bentuknya di samping manfaat buahnya. Juga seperti biji-bijian dari pohon yang berdaun dan berbatang yang sebagiannya merupakan pakan ternak. Dan, seperti tanaman berbau harum yang tumbuh di permukaan bumi, baik yang menjadi makanan manusia maupun makanan binatang, juga ada yang merupakan kesenangan semata bagi manusia (Quth,1992:122-123).

Pada bagian ini dirinci aneka nikmat Allah. Pengajaran Al-Qur’an, penciptaan manusia, pengajaran berbahasa, penyerasian matahari dan bulan dengan perhitungan tertentu, peninggian langit, pemasangan timbangan, penghamparan bumi bagi manusia beserta segala isinya seperti buah-buahan, kurma, biji-bijian, dan tanaman yang harum. Pada sajian ini dibisikkanlah kepada jin dan manusia ihwal sikapnya terhadap alam semesta dan penghuninya (Quth,1992:123).

Allah telah meletakkan bumi dan menghamparkannya untuk tempat tinggal makhluk. Di sana terdapat buah-buahan yang mempunyai kelopak-kelopak mayang yang darinya keluar buahnya. Di sana terdapat biji-bijian yang berkulit, sebagai rezeki untuk kalian (manusia) dan ternak kalian, dan di sana juga terdapat segala tumbuhan yang berbau harum (Basyir,2011:521).

Baik Ayurveda dan Al Qur’an menceritakan tentang kualitas spiritual dari tanaman selasih, kemangi suci (Ocimum sanctum) disebut Tulasi dalam bahasa Sansekerta dan selasih (Ocimum basilicum) disebut Rayhan dalam Alquran (sementara Italia hanya nilai untuk kualitas kuliner nya). Tulasi kemangi digunakan untuk uplife, jelas, dan menyegarkan pikiran, kesadaran membantu untuk fokus pada pikiran rohani. Rayhan disebutkan dalam Al Qur’an (55:12) sebagai tanaman surga, dan Nabi merekomendasikan kepada sahabatnya untuk aromaterapi yang menyegarkan. The Rayhan Kata Arab berasal dari akar yang sama sebagai ‘roh’ ruh.

 

  1. 5.         Manfaat Tumbuhan

Daun kemangi juga berkhasiat menghentikan diare, bisa mencegah timbulnya uap panas dan lembab dari dalam tubuh, bila dihirup baunya. Berfungsi juga untuk menenangkan detak jantung dan menimbulakan kegembiraan, bahkan juga dapat mencegah wabah penyakit menular, caranya dengan meetakkannya dirumah. Daun kemangi berkhasiat mengempeskan pembengkakan dalam dua cara yaitu dengan mencamprkan ke dalam makanan atau ditumbuk. Bila dibalukan di kepala dapat menghambat mimisan. Daun ini juga berkhasiat untuk memperkuat organ tubuh yang lemah bila dibalutkan. Serta berkhasiat untuk menghentikan pendarahan serta menghisap cairan kotor dan bau pada ketiak (Hariyana,2004:83).

Masyarakat Indonesia cukup lama akrab dengan kemangi (Ocimum sp.). Daunnya biasa dihidangkan langsung untuk lalapan bersama mentimun dan terung. Namun selain sebagai lalapan, kemangi juga terbukti mampu untuk merangsang peredaran darah di tubuh. Sehingga kulit lebih sehat, tampak menjadi halus, bersih , kencang, dan kemilau. Daun serta bunga dari kemangi bisa dijadikan wangi-wangian untuk aromaterapi, memberikan ketenangan tersendiri apabila mencium aromanya, sama halnya apabila digunakan sebagai campuran mandi berendam. Tumbuhan ini juga berguna untuk mengatasi jerawat serta kerontokan rambut (Savitri,2008:155).

Mulai dari benih, akar, daun, batang sampai bunga kemangi berfungsi sebagai obat-obatan. Minyak yang dihasilkan dari racikan kemangi dapat memberikan fungsi melawan bakteri seperti Staphylococcus aureus, Salmonella enteridis, dan Escherichia coli. Bahkan menangkal infeksi yang disebabkan virus seperti Basillus subtilis, Salmonella paratyph, dan Proteus vulgaris (Savitri,2008:155-156).

Kemangi juga efektif mengatasi sakit perut seperti mulas, kram, muntah-muntah, demam, influenza, sakit kepal, batuk keras, masalah menstruasi, menetralkan bisa ular, sakit telinga, dan penghambat penyebaran jamur. Dan ketika merasa terganggu oleh serangan nyamuk di malam hari, maka abu kemangi bisa digunakan untuk menghalau serangan tersebut. Populasi kemangi yang menyebar di seluruh belahan dunia beriklim tropis, seperti di benua Eropa, daerah Mediterania, Asia Pasifik, Amerika Selatan dan Utara, Timur Tengah dan Australia (Hariana,2004:85).

Biji kemangi (selasih) berkhasiat menghentikan pendarahan pada dada dan paru-paru, juga berkhasiat membersihkan lambung, namun tidak membahayakan dada dan paru-paru itu sendiri karena unsur pembersih yang ada (disebutkan dalam Zadul Ma’ad, itulah yang lebih tepat, sementara naskah asli disebutkan, karena zat manis yang ada di dalamnya). Khasiatnya berguna untuk mengobati sakit perut dan juga batuk. Dan itu jarang terdapat pada obat-obatan lain. Ia juga berkhasiat untuk memperlancar air seni, berguna mengobati luka pada kandung kemih serta mengobati akibat gigitan laba-laba berbisa dan sengatan kalajengking. Akan tetapi akarnya berbahaya jika digunakan untuk membersihkan gigi (Al-Jauziyah,2004:381).

Biji selasih, selain nikmat dibuat minuman juga menyehatkan. Seluruh bagian tanaman ini berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit, baik fisik maupun psikis. Pemanfaatan tanaman untuk pengobatan, di antaranya selasih, sudah dilakukan masyarakat India sejak 5.000 tahun lalu. Seperti diketahui, kondisi sehat menurut kebudayaan India adalah keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Membangun keseimbangan itulah, salah satu khasiat tanaman yang dalam bahasa setempat disebut tulasi, tulsi, surasa, vishnu-priya, atau krishnamu. Selasih (Ocinum basilicum Linn.) disebutkan dalam situs indianherb, juga sangat kuat untuk mengurangi stres (Kurniawi,2007.http://www.harianglobal.com).

Meskipun belum ada studi klinis mengenai efek psikologis selasih pada manusia, namun sudah banyak yang membuktikan khasiatnya sebagai pereda stres. Sebuah laporan mengumumkan hasil penelitian yang menunjukkan khasiat tanaman yang mirip kemangi ini sebagai penurun hormon stres. Juga tercatat adanya kesembuhan stres secara cepat. Penelitian pada binatang yang menguatkan bahwa selasih memiliki efek yang sama dengan obat-obatan stimulan dan antidepresi. Di Cincinnati, AS, tercatat banyak pasien stres yang mengalami kesembuhan setelah mengkonsumsi selasih. Seorang konselor klinis, Dr. Barbara Hensley, membenarkan efek herbal ini pada sejumlah pasiennya. Sebelumnya mereka telah mencoba herbal lain dan tidak berefek apa-apa (http://www.labanherba.com).

Kecemasan dan depresi berat yang dialami salah seorang pasien Dr. Hensley jauh berkurang setelah beberapa hari mengkonsumsi selasih. “Sekitar 6-8 bulan kemudian kondisi mereka masih baik dan bisa lebih mudah berkonsentrasi,”ujarnya. Dr. Hensley merasa sangat terkesan oleh para pasiennya, sehingga dia mulai tertarik untuk mengkonsumsinya. Ia pun mengakui keampuhan selasih, dan kini merasa lebih berenergi, tidak cepat lelah dan stresnya berkurang. Tak dijelaskan kandungan apa yang ada dalam tanaman selasih yang berefek pada penurunan stres. Unsur fitokimia yang dipunyai selasih sangat banyak. Di seluruh tanaman mengandung minyak menguap yang terdiri dari ocimene, alpa-pipene, cineole, eucalyptole, linalool, geraniol, methylchavicol, eugenole, dan lainnya. Sedangkan bijinya mengandung planteose, asam lemak yaitu asam palmitat, oleat, stearat, dan linoleat (Sutedjo,2004:237).

Ditambahkan oleh ahli tanaman obat dari Malang, Ir. Wahyu Suprapto, selasih mengandung minyak atsiri, sehingga tidak boleh digunakan oleh penderita rematik, karena bisa menimbulkan nyeri. Yang menonjol, katanya, adalah kandungan zat basilicin yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan vitamin C. Vitamin ini penting dalam setiap kegiatan yang dilakukan tubuh manusia (Sutedjo,2004:239).

Ada berbagai macam penyakit lain yang sanggup dihadapi selasih. Dalam farmakologi Cina dinyatakan kalau seluruh herba ini bisa merangsang penyerapan (absorpsi), peluruh keringat (diaporetik), peluruh kencing (diuretik), menghilangkan sakit (analgesik), melancarkan peredaran darah dan membersihkan racun. Kemampuan lainnya yakni membunuh kuman (antiseptik), peluruh angin (carminativa), mematangkan bisul (maturativa), radang lambung, pencahar, TBC, dan menghentikan kegugupan (Sutedjo,2004:301).

Teh daun selasih biasa diminum untuk menyembuhkan segala jenis batuk, demam malaria, gangguan pencernaan, penambah napsu makan dan tak enak badan. Baik pula untuk gangguan pernapasan, mual, nyeri haid, pengobatan pascapersalinan, pembersih dan penguat jantung. Bijinya bermanfaat untuk meredakan panas dalam dan pelembut kulit. Suatu penelitian pada marmut membuktikan kalau ekstrak daun selasih berefek antialergi dan antibakteri. Sebagai antibakteri, ia aktif melawan staphlococcus aureus dan mycoplasma tuberculosis, serta jamur. Untuk pemakaian luar, selasih efektif sebagai penyembuh luka, kelainan kulit, juga merupakan obat antinyamuk yang ampuh (Abdul Fattah,2004:354).

Sebagai antiradang selasih memiliki efektivitas sama seperti aspirin dan ibuprofen. Yang lebih menguntungkan, tidak seperti obat-obat itu, selasih tidak mengiritasi perut. Itu karena pada herba ini terdapat unsur yang mencegah perlukaan dalam tubuh yang disebabkan obat-obatan. Tanaman ini juga bisa untuk mencegah kanker dan mengurangi kolesterol. Pada Diabetes Mellitus, terutama yang non-insulin dependent (NID DM), selasih dapat menurunkan kadar gula darah serta melindungi sel dalam pankreas yang memproduksi insulin, dari kerusakan (Tjitrosoepomo,1994:218).

Penelitian secara acak pada tahun 1996 menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah puasa dan setelah makan yang bermakna, pada pasien NID-DM. Menurut riset yang dilakukan pada tikus, kandungan ethanol dalam selasih berkhasiat menurunkan kadar gula darah. Temuan lain yang mengagumkan, ternyata selasih mampu melindungi jaringan dalam tubuh dari kerusakan akibat radiasi (Adnyana,2007.http://www.anekaplantasia.com).

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.   Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai selasih/kemangi di atas dapat disimpulkan bahwa tumbuhan kemangi (Ocimum basilicum) mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. Kebanyakan manfaat kemangi adalah untuk obat-obatan. Mulai dari akar, daun, batang, bunga dan biji kemangi dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Daun kemangi biasa digunakan untuk lalapan dan disajikan langsung bersama mentimun dan terung atau kadang kubis. Biji kemangi atau biasa disebut dengan selasih dapat digunakan sebagai bahan campuran makanan seperti es campur, puding, dan campuran kue. Selain itu kemangi mempunyai banyak manfaat yaitu untuk menyembuhkan penyakit serta menghiangkan gangguan-gangguan dalam tubuh.

Kemangi mengandung minyak atsiri yang mempunyai aroma khas sehingga kemangi dapat digunakan sebagai bahan aroma terapi. Kemangi juga dapat digunakan sebagai bahan untuk digunakan sebagai  body lotion, parfum, sabun mandi, minyak gosok, permen pelega tenggorokan, dan minyak aroma terapi. Oleh karena itu kemangi banyak digunakan sebagai aroma terapi pada tempat-tempat spa karena dapat menghilangkan stress sehingga dapat menenangkan pikiran.

  1. B.   Saran

Makalah ini teah membahas mengenai khasiat dan kandungan dari tumbuhan kemangi (Ocimum basillicum) secara jeas dan rinci. Oleh karena itu, diharapkan setelah membaca makalah ini, kita dapat memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitar kita untuk digunakan sebagai obat. Dengan ini kita akan dapat lebih mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah kepada kita di bumi agar kita tidak meraso sombong dengan apa yang kita miliki.

 

 

 

Tumbuhan Bahan Sandang

  1. ECENG GONDOK

    

 

 

                     

 

Sistematika Taksonomi

Kerajaan:

Plantae

Divisi:

Magnoliophyta

Kelas:

Liliopsida

Ordo:

Commelinales

Famili:

Pontederiaceae

Genus:

Eichhornia
Kunth

Spesies:

E. crassipes

 

Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.

Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.

Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan eceng gondok antara lain:

  • Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
  • Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
  • Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
  • Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
  • Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
  • Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.

Eceng gondok dianggap sebagai tumbuhan pengganggu yang ada di perairan air tawar. Namun, pada masa sekarang eceng gondok dapat dimanfaatkan menjadi produk baru yang mempunyai niai jual tinggi. Bagi sebagian besar orang eceng gondok dianggap sebagai tanaman tak berguna dan hanya menjadi biang terjadinya banjir karena selalu mengotori sungai. Namun bagi orang yang kreatif, eceng gondok dapat diolah menjadi berbagai barang kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Kerajinan eceng gondok ini bahkan telah menembus pasar ekspor.

Eceng gondok selama ini hanya dianggap sebagai tanaman sampah yang mengotori sungai. Namun ditangan Abdul Jalal, warga Kelurahan Klego, Pekalongan, Jawa Tengah, tanaman eceng gondok dapat menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Kerajinan dari bahan dasar eceng gondok buatan Abdul Jalal antara lain berupa hiasan dinding, sandal, taplak meja, batal kursi dan dompet. Jika sudah berbentuk barang kerajinan ini, kesan eceng gondok sebagai tanaman tak bernilai pun sirna.

Harga barang kerajinan eceng gondok berkisar antara 20 ribu hingga 200 ribu rupiah,tergantung modelnya. Jalal mulai menekuni kerajinan eceng gondok ini sekitar 5 tahun silam. Kreatifitasnya muncul berawal saat dirinya melihat hamparan tanaman eceng gondok disebuah sungai di Pekalongan. Lalu timbul keinginannya untuk mencoba membuat kerajinan dari bebeberapa tanaman eceng gondok yang dipungut dari sungai. Tak disangka, kerajinan eceng gondoknya diminati orang.  

Selain itu, ada pula pengusaha furniture yang menggunakan eceng gondok sebagai bahan baku pembuatan kursi, box laundry, mainan, sampul buku, dll. , eceng gondok dipilih karena merupakan salah satu material lokal yang unik dan belum terlalu banyak dieksplorasi.

Eceng gondok pun memiliki sisi lebih dan minusnya. Kelebihannya, eceng gondok memiliki kesan rustic dan kesan alami yang kuat. Bisa dibuat dengan rangka kayu atau rotan, sehingga cukup fleksibel dan mudah dibentuk. Kelemahannya, material ini harus dijauhkan dari air karena porous, lebih baik digunakan sebagai untuk furnitur interior atau pada teras yang beratap.

Kelebihan eceng gondok selain kesan alaminya yang kuat, harga furnitur eceng gondok cenderung lebih murah dibanding kayu dan rotan sintetis. Produk ini diminati oleh pembeli karena sifatnya yang alami, klasik, elegan juga tidak ketinggalan zaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. KAPUK RANDU

   

                         

 

 

Sistematika Taksonomi

Kerajaan:

Plant

Divisi:

Magnoliophyta

Kelas:

Magnoliopsida

Ordo:

Malvales

Famili:

Bombacaceae

Genus:

Ceiba

Spesies:

C. pentandra  

 

Pohon ini banyak ditanam di Asia, terutama di pulau Jawa, Malaysia, Filipina, dan Amerika Selatan. Di Bogor terdapat jalan yang di sepanjang tepinya dinaungi pohon kapuk. Pada saat buahnya merekah suasana di jalanan menyerupai hujan salju karena serat kapuk yang putih beterbangan di udara. Pohon ini bisa dikatakan sebagai pohon peneduh jalan karena sering ditemukan pohon ini hidup di pinggir jalan.

Kapuk randu adalah pohon tropis yang tergolong ordo Malvaceae (sebelumnya Bombacaceae) berasal dari bagian utara Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Kata ‘kapuk’ juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya. Pohon ini juga dikenal sebagai Kapas Jawa atau Kapok Jawa, dapat tumbuh setinggi 60-70 meter dan dapat memiliki diameter batang pohon sampai dengan 3 meter.

 

 

Pohon ini mempunyai duri tempel (aculeus) yang menyelubungi kulit pohonnya dan letaknya tersebar. Pohon randu mempunyai cabang yang mendatar (horozontalis), karena batang pokok membentuk sudut 90o . Namun duri-duri tersebut merupakan duru yang mudah ditanggalkan dari alat yang mendukungnya. Tumbuhan mempunyai daun majemuk yang beranak daun tujuh dan terletak pada ujung batang. Bunganya berwarna putih pucat, memiliki mahkota bunga sebanyak 5 dan mempunyai kelopak. Bunganya merupakan bunga banci. Buah berbentuk lonjong dengan ujungnya sedikit meruncing. Biji tersebar didalam buah dan daging buah menjadi kapuk.

Randu mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Umumnya, randu adalah penghasil kapuk yang digunakan sebagai pengisi bantal atau guling. Sedangkan pohonnya (batang) digunakan sebagai bahan bangunan. Ranting atau cabangnya digunakan sebagai kayu bakar.

 

Tumbuhan Sekitar Sungai

TUMBUHAN YANG HIDUP DI PINGGIR SUNGAI

  1. BAMBU

          

 

                     

SISTEMATIKA TAKSONOMI

Kingdom : Plantae

Devisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Klas : Monocotiledonae

Ordo : Graminales

Famili : Gramineae

Subfamili : Bambusoideae

Genus : Gigantochloa

Spesies : Gigantochloa apus

Di setiap lokasi begitu banyak bambu yang tumbuh misalnya didaerah dekat dengan aliran sungai, tebing-tebing ataupun di pinggir pinggir danau. Jika kita perhatikan pertumbuhan bambu begitu cepat berkembang di daerah daerah yang dingin dan agak lembab.

Tanaman bambu di Indonesia ditemukan mulai dari dataran rendah sampai pegunungan. Pada umumnya ditemukan di tempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air. Tanaman bambu hidup merumpun, mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan ruasnya, disamping tunas-tunas rumpunnya.

Bambu tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Hiant Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 3-4 tahun. Batang bambu berbentuk silindris, berbuku-buku, beruas-ruas berongga, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang.

Tanaman bambu yang sering kita kenal umumnya berbentuk rumpun. Padahal dapat pula bambu tumbuh sebagai batang soliter atau perdu. Tanaman bambu yang tumbuh subur di Indonesia merupakan tanaman bambu yang simpodial, yaitu batang-batangnya cenderung mengumpul didalam rumpun karena percabangan rhizomnya di dalam tanah cenderung mengumpul. Batang bambu yang lebih tua berada di tengah rumpun, sehingga kurang menguntungkan dalam proses penebangannya.

Arah pertumbuhan biasanya tegak, kadang-kadang memanjat dan batangnya mengayu. Jika sudah tinggi, batang bambu ujungnya agak menjuntai dan daun-daunya seakan melambai. Tanaman ini dapat mencapai umur panjang dan biasanya mati tanpa berbunga.

Akar rimpangnya yang terdapat dibawah tanah membentuk sistem percabangan, dimana dari ciri percabangan tersebut nantinya akan dapat membedakan asal dari kelopok bambu tersebut. Bagian pangkal akar ripangnya lebih sempit dari pada bagian ujungnya dan setiap ruas mempunyai kuncup dan akar. Kuncup pada akar rimpang ini akan berkembang menjadi rebung yang kemudian memanjat dan akhirnya menghasilkan buluh.

Tunas atau batang-batang bambu muda yang baru muncul dari permukaan dasar rumpun dan rhizome disebut rebung. Rebung tumbuh dari kuncup akar rimpang didalam tanah atau dari pangkal buluh yang tua. Rebung dapat dibedakan untuk membedakan jenis dari bambu karena menunjukkan ciri khas warna pada ujungnya dan bulu-bulu yang terdapat pada pepepahnya. Bulu pelepah rebung umumnya hitam, tetapi ada pula yang coklat atau putih misalnya bambu cangkreh (Dinochloa scandens), sementara itu pada bambu betung (Dendrocalamus asper) rebungnya tertutup oleh bulu coklat.

Batang-batang bambu muncul dari akar-akar rimpang yang menjalar dibawah lantai. Batang-batang yang sudah tua keras dan umumnya berongga, berbetuk silinder memanjang dan terbagi dalam ruas-ruas. Tinggi tanaman bambu sekitar 0,3 m sampai 30 m. Diameter batangnya 0,25-25 cm dan ketebalan dindingnya sampai 25 mm. Pada bagian tanaman terdapat organ-organ daun yang menyelimuti batang yang disebut dengan pelepah batang. Biasanya pada batang yang sudah tua pelepah batangnya mudah gugur. Pada ujung pelepah batang terdapat perpanjangan tambahan yang berbetuk segi tiga dan disebut subang yang biasanya gugur lebih dulu.

Helai daun bambu mempunyai tipe pertulangan yang sejajar seperti rumput, dan setiap daun mempunyai tulang daun utama yang menonjol. Daunnya biasanya lebar, tetapi ada juga yang kecil dan sempit seperti pada bambu cendani (Bambusa multiplex) dan bambu siam (Thyrsostachys siamensis). Helai daun dihubungkan dengan pelepah oleh tangkai daun yang mungkin panjang atau pendek. Pelepah dilengkapi dengan kuping pelepah daun dan juga ligula. Kuping pelepah daun umumnya besar tetapi ada juga yang kecil atau tidak tampak. Pada beberapa jenis bambu, kuping pelepah daunnya mempunyai bulu kejur panjang, tetapi ada juga yang gundul.

Bambu merupakan tanaman yang memiliki manfaat sangat penting bagi kehidupan. Semua bagian tanaman mulai dari akar, batang, daun bahkan rebungnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Pada perinsipnya, pengembangan tanaman bambu di negara kita ini sangat prospek, disamping dapat memenuhi kebutuhan bambu dalam negeri juga dapat memenuhi kebutuhan luar negeri. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi tanaman bambu juga dapat sebagai salah satu kantong penyerap air, akar-akar pada bambu sangat baik dalam hal menahan dan menjaga ketersediaan air dalam tanah.

Di Indonesia, bambu sering digunanakan sebagai alat musik tradisional yang menjadi ciri khas masing-masing daerah Indonesia. Salah satu contohnya adalah Angklung dan Seruling yang berasal dari Sunda. Di beberapa daerah Asia Timur dan Asia tenggara bambu digunakan sebagai alat bela diri.Contohnya adalah Bela diri silambam pada zaman Tamil kuno, pada bela diri ini petarung akan sering saling berpukulan dengan tongkat bambu.

Bambu merupakan bahan baku dari berbagai peralatan rumah tangga yang utama sebelum datangnya era peralatan rumah tangga dari plastik. Bakul nasi, tampah, bubu/perangkap ikan, tempat kue (besek), topi bambu (caping) adalah contoh dari beberapa peralatan yang terbuat dari bambu.

Pada pengobatan Cina, bambu digunakan untuk mengobati dan menyembuhkan infeksi. Bambu mengandung sumber pottasium yang rendah kalori, rasa manisnya terkenal sebagai sumber protein dan nutrisi yang baik.

Terdapat beragam jenis bambu yang dapat kita temui di lingkungan sekitar kita terutama di wilayah perdesaan yang masih banyak memiliki lahan perkebunan. Masing-masing jenis memiliki keunggulan tersendiri untuk diolah menjadi barang yang siap pakai. Beberapa diantaranya ialah bambu wulung dan bambu gading yang dapat diolah menjadi mebel berupa meja dan kursi serta ornamen bangunan, bambu tali yang dapat dijadikan kerajinan tangan seperti keranjang dan nampah, dan tentunya masih banyak lagi produk yang dihasilkan.

  1. LO

   

   

SISTEMATIKA TAKSONOMI

Kingdom  : Plantae

Division   : Magnoliophyta

Class        : Magnolipsida

Order        : Urticales

 Family      : Moraceae

Genus       : Ficus

Species    : F. Racemosa

Ciri-ciri umum dari pohon lo yaitu merupakan pohon yang tingginya mencapai 20 m. Mempunyai daun banyak dan tebal. Buah muncul langsung dari batang dan berasa manis. Buahnya merupakan buah semu, yaitu berasal dari bagian bunga yang menebal menjadi daging. Buah sesungguhnya adalah yang biasanya disebut dengan bijinya.

Pohon ficus (Moraceae, Ficus) yang paling umum dikenal di Amerika sebagai pohon ara. Budidaya ficus mulai awal dalam sejarah manusia, yang memungkinkan pohon untuk menyebar ke seluruh dunia. Saat ini, ada dua ribu spesies dalam genus ficus yang tumbuh di daerah tropis, subtropis dan sedang, membuat habitat pohon ficus beragam.

Pohon ficus adalah pohon yang ditandai dengan cabang pohon memutar dan buahnya terkenal dengan sebutan ara. Pohon ini dapat tumbuh hingga ketinggian 50 kaki, dengan cabang-cabang  banyak. Kulit pohon mengandung  getah lateks, yang dapat mengiritasi kulit. Daunnya tersusun dalam 3-7 warna, yaitu terang hijau, berbulu, lobus palmate. Buah ficus mekar di dua musim, yaitu musim semi dan musim gugur. Hanya buah dari panen kedua yang bisa dikonsumsi karena buah pada panen pertama di musim semi rasanya terlalu asam. Kulit ara berwarna putih kemudian warnanya menjadi kuning dan dagingnya menjadi warna merah atau ungu. Buah ini juicy dan manis ketika matang, kulit tipis dan lembut.

Pohon ficus akan tumbuh dalam kondisi tanah yang beragam selama pohon itu ditanam pada kedalaman yang tepat untuk mengakomodasi sistem akar. Tanah yang baik yaitu seperti batu gamping, pasir, tanah liat berat dan lempung yang kaya mineral telah memungkinkan ficus untuk berkembang dalam habitat di seluruh dunia. Idealnya, pohon harus ditanam di tanah dengan keseimbangan pH dari 6,0 sampai 6,5, yang berdrainase baik dan kaya akan nutrisi. Namun demikian, ficus akan mentolerir keseimbangan pH berkisar 5,5-8,0 dan rata-rata tanah yang buruk dengan salinitas sedang. Tanah yang sangat asam dan atau mengandung alkali deposito hitam tidak dianjurkan.

Ficus memerlukan pasokan air reguler  hingga pohon dapat membangun dirinya. Dalam iklim kering bahkan dewasa, pohon  yang mapan harus disiram secara teratur setiap minggu. Jika pohon ficus tidak menerima kecukupan pasokan air untuk memenuhi kebutuhannya daun akan menguning dan rontok. Pohon itu juga tidak akan menghasilkan buah apapun. Penyiraman selama awal musim semi sangat penting untuk produksi buah, namun hujan lebat selama pematangan buah ara akan menyebabkan buah-buahan terbuka dan merusak buah.

Pohon ficus tumbuh subur di iklim subtropis yang hangat. Daerah Mediterania dikenal untuk menghasilkan buah ara yang terbaik karena musim panas mereka kering dan panas dan musim semi basah dan sejuk. Di musim panas ficus membutuhkan sedikitnya delapan jam sinar matahari langsung, suhu hangat dan air yang cukup untuk memproduksi dan mematangkan buah. Di musim dingin sebuah pohon ficus  yang aktif dapat bertahan jika suhu turun menjadi 15 sampai 20 derajat Fahrenheit, namun di daerah yang lebih dingin atau bersalju, dapat menghancurkan buah-buahan musim semi dan dapat membunuh atau menon-aktif pohon.

Ficus glomerata atau lo adalah pohon besar di keluarga pohon ficus, yang memiliki berbagai aplikasi dalam bidang obat-obatan. Rebusan dibuat dari kulit pohon yang digunakan dalam pengobatan sifilis. Pohon ini juga digunakan dalam pengobatan sekitar 50 penyakit. Daun dan buah dari tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat disentri dan antidot terhadap racun dari bunga kecubung. Aplikasi ini dapat digunakan untuk pengobatan  internal atau eksternal.

Di bagian utara India, pohon ini memiliki posisi menguntungkan dan membentuk bagian utama dari festival ibadah dan agama. Pohon ini melimpah di dataran utara, namun juga terdapat di bagian selatan, terutama Kerala dan Tamil Nadu di mana ia dikenal sebagai Athi (Atti, Atthi, Aththi). Penanaman pohon ini merupakan  properti dalam negeri yang menguntungkankarena mempunyai beberapa manfaat.

Pada masa ini, pohon dari Ficus glomerata dapat digunakan sebagai tanaman hias. Pohon ini dapat dijadikan sebagai bonsai  yang bernilai tinggi dan dapat menembus pasar internasional. Bagi pecinta bonsai, koleksi ini merupakan koleksi terbaru di pasar tanaman hias.

 

 

 

Tumbuhan Sekitar Sungai

TUMBUHAN YANG HIDUP DI PINGGIR SUNGAI

  1. BAMBU

          

 

                     

SISTEMATIKA TAKSONOMI

Kingdom : Plantae

Devisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Klas : Monocotiledonae

Ordo : Graminales

Famili : Gramineae

Subfamili : Bambusoideae

Genus : Gigantochloa

Spesies : Gigantochloa apus

Di setiap lokasi begitu banyak bambu yang tumbuh misalnya didaerah dekat dengan aliran sungai, tebing-tebing ataupun di pinggir pinggir danau. Jika kita perhatikan pertumbuhan bambu begitu cepat berkembang di daerah daerah yang dingin dan agak lembab.

Tanaman bambu di Indonesia ditemukan mulai dari dataran rendah sampai pegunungan. Pada umumnya ditemukan di tempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air. Tanaman bambu hidup merumpun, mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan ruasnya, disamping tunas-tunas rumpunnya.

Bambu tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Hiant Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 3-4 tahun. Batang bambu berbentuk silindris, berbuku-buku, beruas-ruas berongga, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang.

Tanaman bambu yang sering kita kenal umumnya berbentuk rumpun. Padahal dapat pula bambu tumbuh sebagai batang soliter atau perdu. Tanaman bambu yang tumbuh subur di Indonesia merupakan tanaman bambu yang simpodial, yaitu batang-batangnya cenderung mengumpul didalam rumpun karena percabangan rhizomnya di dalam tanah cenderung mengumpul. Batang bambu yang lebih tua berada di tengah rumpun, sehingga kurang menguntungkan dalam proses penebangannya.

Arah pertumbuhan biasanya tegak, kadang-kadang memanjat dan batangnya mengayu. Jika sudah tinggi, batang bambu ujungnya agak menjuntai dan daun-daunya seakan melambai. Tanaman ini dapat mencapai umur panjang dan biasanya mati tanpa berbunga.

Akar rimpangnya yang terdapat dibawah tanah membentuk sistem percabangan, dimana dari ciri percabangan tersebut nantinya akan dapat membedakan asal dari kelopok bambu tersebut. Bagian pangkal akar ripangnya lebih sempit dari pada bagian ujungnya dan setiap ruas mempunyai kuncup dan akar. Kuncup pada akar rimpang ini akan berkembang menjadi rebung yang kemudian memanjat dan akhirnya menghasilkan buluh.

Tunas atau batang-batang bambu muda yang baru muncul dari permukaan dasar rumpun dan rhizome disebut rebung. Rebung tumbuh dari kuncup akar rimpang didalam tanah atau dari pangkal buluh yang tua. Rebung dapat dibedakan untuk membedakan jenis dari bambu karena menunjukkan ciri khas warna pada ujungnya dan bulu-bulu yang terdapat pada pepepahnya. Bulu pelepah rebung umumnya hitam, tetapi ada pula yang coklat atau putih misalnya bambu cangkreh (Dinochloa scandens), sementara itu pada bambu betung (Dendrocalamus asper) rebungnya tertutup oleh bulu coklat.

Batang-batang bambu muncul dari akar-akar rimpang yang menjalar dibawah lantai. Batang-batang yang sudah tua keras dan umumnya berongga, berbetuk silinder memanjang dan terbagi dalam ruas-ruas. Tinggi tanaman bambu sekitar 0,3 m sampai 30 m. Diameter batangnya 0,25-25 cm dan ketebalan dindingnya sampai 25 mm. Pada bagian tanaman terdapat organ-organ daun yang menyelimuti batang yang disebut dengan pelepah batang. Biasanya pada batang yang sudah tua pelepah batangnya mudah gugur. Pada ujung pelepah batang terdapat perpanjangan tambahan yang berbetuk segi tiga dan disebut subang yang biasanya gugur lebih dulu.

Helai daun bambu mempunyai tipe pertulangan yang sejajar seperti rumput, dan setiap daun mempunyai tulang daun utama yang menonjol. Daunnya biasanya lebar, tetapi ada juga yang kecil dan sempit seperti pada bambu cendani (Bambusa multiplex) dan bambu siam (Thyrsostachys siamensis). Helai daun dihubungkan dengan pelepah oleh tangkai daun yang mungkin panjang atau pendek. Pelepah dilengkapi dengan kuping pelepah daun dan juga ligula. Kuping pelepah daun umumnya besar tetapi ada juga yang kecil atau tidak tampak. Pada beberapa jenis bambu, kuping pelepah daunnya mempunyai bulu kejur panjang, tetapi ada juga yang gundul.

Bambu merupakan tanaman yang memiliki manfaat sangat penting bagi kehidupan. Semua bagian tanaman mulai dari akar, batang, daun bahkan rebungnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Pada perinsipnya, pengembangan tanaman bambu di negara kita ini sangat prospek, disamping dapat memenuhi kebutuhan bambu dalam negeri juga dapat memenuhi kebutuhan luar negeri. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi tanaman bambu juga dapat sebagai salah satu kantong penyerap air, akar-akar pada bambu sangat baik dalam hal menahan dan menjaga ketersediaan air dalam tanah.

Di Indonesia, bambu sering digunanakan sebagai alat musik tradisional yang menjadi ciri khas masing-masing daerah Indonesia. Salah satu contohnya adalah Angklung dan Seruling yang berasal dari Sunda. Di beberapa daerah Asia Timur dan Asia tenggara bambu digunakan sebagai alat bela diri.Contohnya adalah Bela diri silambam pada zaman Tamil kuno, pada bela diri ini petarung akan sering saling berpukulan dengan tongkat bambu.

Bambu merupakan bahan baku dari berbagai peralatan rumah tangga yang utama sebelum datangnya era peralatan rumah tangga dari plastik. Bakul nasi, tampah, bubu/perangkap ikan, tempat kue (besek), topi bambu (caping) adalah contoh dari beberapa peralatan yang terbuat dari bambu.

Pada pengobatan Cina, bambu digunakan untuk mengobati dan menyembuhkan infeksi. Bambu mengandung sumber pottasium yang rendah kalori, rasa manisnya terkenal sebagai sumber protein dan nutrisi yang baik.

Terdapat beragam jenis bambu yang dapat kita temui di lingkungan sekitar kita terutama di wilayah perdesaan yang masih banyak memiliki lahan perkebunan. Masing-masing jenis memiliki keunggulan tersendiri untuk diolah menjadi barang yang siap pakai. Beberapa diantaranya ialah bambu wulung dan bambu gading yang dapat diolah menjadi mebel berupa meja dan kursi serta ornamen bangunan, bambu tali yang dapat dijadikan kerajinan tangan seperti keranjang dan nampah, dan tentunya masih banyak lagi produk yang dihasilkan.

  1. LO

   

   

SISTEMATIKA TAKSONOMI

Kingdom  : Plantae

Division   : Magnoliophyta

Class        : Magnolipsida

Order        : Urticales

 Family      : Moraceae

Genus       : Ficus

Species    : F. Racemosa

Ciri-ciri umum dari pohon lo yaitu merupakan pohon yang tingginya mencapai 20 m. Mempunyai daun banyak dan tebal. Buah muncul langsung dari batang dan berasa manis. Buahnya merupakan buah semu, yaitu berasal dari bagian bunga yang menebal menjadi daging. Buah sesungguhnya adalah yang biasanya disebut dengan bijinya.

Pohon ficus (Moraceae, Ficus) yang paling umum dikenal di Amerika sebagai pohon ara. Budidaya ficus mulai awal dalam sejarah manusia, yang memungkinkan pohon untuk menyebar ke seluruh dunia. Saat ini, ada dua ribu spesies dalam genus ficus yang tumbuh di daerah tropis, subtropis dan sedang, membuat habitat pohon ficus beragam.

Pohon ficus adalah pohon yang ditandai dengan cabang pohon memutar dan buahnya terkenal dengan sebutan ara. Pohon ini dapat tumbuh hingga ketinggian 50 kaki, dengan cabang-cabang  banyak. Kulit pohon mengandung  getah lateks, yang dapat mengiritasi kulit. Daunnya tersusun dalam 3-7 warna, yaitu terang hijau, berbulu, lobus palmate. Buah ficus mekar di dua musim, yaitu musim semi dan musim gugur. Hanya buah dari panen kedua yang bisa dikonsumsi karena buah pada panen pertama di musim semi rasanya terlalu asam. Kulit ara berwarna putih kemudian warnanya menjadi kuning dan dagingnya menjadi warna merah atau ungu. Buah ini juicy dan manis ketika matang, kulit tipis dan lembut.

Pohon ficus akan tumbuh dalam kondisi tanah yang beragam selama pohon itu ditanam pada kedalaman yang tepat untuk mengakomodasi sistem akar. Tanah yang baik yaitu seperti batu gamping, pasir, tanah liat berat dan lempung yang kaya mineral telah memungkinkan ficus untuk berkembang dalam habitat di seluruh dunia. Idealnya, pohon harus ditanam di tanah dengan keseimbangan pH dari 6,0 sampai 6,5, yang berdrainase baik dan kaya akan nutrisi. Namun demikian, ficus akan mentolerir keseimbangan pH berkisar 5,5-8,0 dan rata-rata tanah yang buruk dengan salinitas sedang. Tanah yang sangat asam dan atau mengandung alkali deposito hitam tidak dianjurkan.

Ficus memerlukan pasokan air reguler  hingga pohon dapat membangun dirinya. Dalam iklim kering bahkan dewasa, pohon  yang mapan harus disiram secara teratur setiap minggu. Jika pohon ficus tidak menerima kecukupan pasokan air untuk memenuhi kebutuhannya daun akan menguning dan rontok. Pohon itu juga tidak akan menghasilkan buah apapun. Penyiraman selama awal musim semi sangat penting untuk produksi buah, namun hujan lebat selama pematangan buah ara akan menyebabkan buah-buahan terbuka dan merusak buah.

Pohon ficus tumbuh subur di iklim subtropis yang hangat. Daerah Mediterania dikenal untuk menghasilkan buah ara yang terbaik karena musim panas mereka kering dan panas dan musim semi basah dan sejuk. Di musim panas ficus membutuhkan sedikitnya delapan jam sinar matahari langsung, suhu hangat dan air yang cukup untuk memproduksi dan mematangkan buah. Di musim dingin sebuah pohon ficus  yang aktif dapat bertahan jika suhu turun menjadi 15 sampai 20 derajat Fahrenheit, namun di daerah yang lebih dingin atau bersalju, dapat menghancurkan buah-buahan musim semi dan dapat membunuh atau menon-aktif pohon.

Ficus glomerata atau lo adalah pohon besar di keluarga pohon ficus, yang memiliki berbagai aplikasi dalam bidang obat-obatan. Rebusan dibuat dari kulit pohon yang digunakan dalam pengobatan sifilis. Pohon ini juga digunakan dalam pengobatan sekitar 50 penyakit. Daun dan buah dari tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat disentri dan antidot terhadap racun dari bunga kecubung. Aplikasi ini dapat digunakan untuk pengobatan  internal atau eksternal.

Di bagian utara India, pohon ini memiliki posisi menguntungkan dan membentuk bagian utama dari festival ibadah dan agama. Pohon ini melimpah di dataran utara, namun juga terdapat di bagian selatan, terutama Kerala dan Tamil Nadu di mana ia dikenal sebagai Athi (Atti, Atthi, Aththi). Penanaman pohon ini merupakan  properti dalam negeri yang menguntungkankarena mempunyai beberapa manfaat.

Pada masa ini, pohon dari Ficus glomerata dapat digunakan sebagai tanaman hias. Pohon ini dapat dijadikan sebagai bonsai  yang bernilai tinggi dan dapat menembus pasar internasional. Bagi pecinta bonsai, koleksi ini merupakan koleksi terbaru di pasar tanaman hias.

 

 

 

Makalah Tumbuhan Paku

BAB I

PENDAHULUAN

Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah, karena meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus, serta mempunyai sistem pembuluh tetapi blm menghasilkan biji, dan alat perkembangbiakan yang lain. Alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Jadi penempatan tumbuhan paku ke dalam golongan tingkat rendah atau tinggi bisa berbeda-beda tergantung sifat yang digunakan sebagai dasar. Jika didasarkan pada macam alat perkembangbiakannya, maka sebagai tumbuhan berspora tergolong tumbuhan tingkat rendah. Namun, jika didasarkan pada ada atau tidaknya sistem pembuluh, tumbuhan paku dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi karena sudah mempunyai berkas pembuluh (Tjitrosoepomo,1994).

Meskipun tumbuhan paku mempunyai akar, batang dan daun, tetapi untuk yang primitif daunnya masih sangat sederhana. Tumbuhan paku belum mempunyai lamina dan masih dinamakan mikrofil. Anggota dari Pteridophyta mempunyai habitus yang heterogen, dari yang berukuran kecil sampai yang besar (Tjitrosoepomo,1994).

Sebagai tumbuhan tingkat rendah, Pteridophyta lbih maju dari pada Bryophyta karena sudah mempunyai berkas pembuluh. Sporofitnya hidup bebas dan berumur panjang, sudah ada akar sejati, dan sebagian sudah merupakan tumbuhan heterospor (Tjitrosoepomo,1994).

Sementara itu, ahli taksonomi yang lain (Eichler,1883) juga membagi tumbuhan menjadi dua kelompok berdasarkan atas letak alat-alat kelaminnya, yaitu:

  1. Cryptogamae: Tumbuhan yang alat perkawinannya tersembunyi di dalam. Yang termasuk kelompok ini adalah Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta dan Pteridophyta. Kelompok ini juga bisa dianggap sebagai golongan tumbuhan tingkat rendah.
  2. Phanerogamae: Tumbuhan yang alat perkawinannya terihat mencolok. Yang termasuk kelompok ini adalah Spermatophyta yang juga dapat dianggap sebagai golongan tumbuhan tingkat tinggi.

Selanjutnya kelompok Cryptogamae itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua golongan yang didasarkan atas ada atau tidaknya sistem pembuluh, yaitu:

  1. Non-vascular Cryptogamae, termasuk dalam golongan ini yaitu Schizophyta, Thallophyta dan Bryophyta.
  2. Vascular Cryptogamae, termasuk dalam golongan ini yaitu Pteridophyta.

Seperti halnya dengan Bryophyta, di dalam siklus hidup Pteridophyta juga terdapat pergantian generasi. Individu yang menghasilkan gamet diberi nama gametofit dan merupakan generasi yang haploid. Setelah terjadi fertilisasi akan terbentuk zigot yang merupakan permulaan dari keturunan (generasi) yang diploid. Kemudian dari sini terbentuk individu yang diploid dan diberi nama sporofit. Sporofit merupakan individu yang menghasilkan spora melalui pembelahan reduksi. Jadi, spora ini merupakan permulaan dari generasi yang haploid. Dari spora ini akan terbentuk protalium (protalus) melalui perkecambhan dari spora (Suisetijiono,2011).

Perbedaannya dengan Bryophyta ialah, pada tumbuhan paku yang dikenal sebagai tumbuhannya adalah aporofit, sedangkan pada tumbuhan lumut, yang dikenal sebagai tumbuhannya adalah gametofit. Kemudian beberapa tumbuhan paku ada yang bersifat heterospor sehingga dijumpai adanya makrogametofit dan mikrogametofit. Selain dari pada itu sporofit dari tumbuhan paku dapat hidup bebas, hanya pada tingkatan permulaan dari pertumbuhannya saja bergantung secara fisiologis dan gametofit (Sulisetijono,2011).

Pada Pteridophyta juga dimungkinkan terjadi penyimpangan dari siklus hidup yang normal, yaitu adanya peristiwa apogami dan apospori. Apogami ialah terbentuknya sporofit langsung dari gametofit tanpa melalui persatuan dari gamet-gamet. Sporofit yang terjadi dari peristiwa apogami mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan gametofit. Terjadinya apogami disebabkan karena terbentuknya tunas pada protalium yang langsugn tumbuh menjadi sporofit, atau karena sel telur yang tumbuh menjadi sporofit tanpa terjadi fertilisasi terlebih dahulu (partogenesis). Peristiwa apogami ini dapat terjadi pada jenis Dryopteris, Pteris, Adiantum, diplazium, Asplenium, Osmunda, Lycopodium, Equisetum dan Polypodium (Sulisetijono,2011).

Apospori ialah terbentuknya protalium dari sporofit tanpa melalui pembentukan spora. Protalium yang terjadi dari peistiwa apospori juga mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan sporofit. Terjadinya apospori dapat disebabkan karena timbulnya filamen dari jaringan sporofit yang kemudian menjadi protalium serta hanya membentuk anteridium karena biasanya tidak membentuk arkegonium, atau disebabkan karena jaringan sporofit yang dapat membentuk protalium tadi kemungkinan dari tangkai sporangium, dari daun dan juga dari jaringan steril pada sorus. Peristiwa apospori dapat terjadi pada jenis Trichomanes, Pteridium aquilium, Asplenium demorphum, Osmunda regalis, Osmunda javanica, Tectaria trifoliata da Pteris cretica (Sulisetijono,2011).

Tumbuhan paku dimasukkan dalam divisi tersendiri yaitu Pteridophyta, yang dapat dibedakan atas beberapa kelas yaitu Psilophytineae, Lycopodiineae, Equisetanae, dan Filicanae. Tippo (1942) dalam Pandey (1977), memasukkan tumbuhan paku daam Tracheophyta bersama Gymnospermae dan Angiospermae (Smith,1972).

Lycopsida, Sphenopsida dan Pteropsida. Wardlaw (1955) dalam Pandey (1977) sependapat dengan Tippo, akan tetapi berdasarkan International Rules of Botanical Nomenclature, istilah filum dan sub-filum digunakan dalam zoologi, maka empat sub-filum tersebut dimasukkan dalam e,pat sub-divisi dengan nama tetap seperti yang telah disebut di atas. Sedangkan menurut Smith (1972) dan Vasisht (1972), paku-pakuan terbagi atas empat divisi, yaitu Psilophyta, Lepidophyta atau Lycophyta, Calamophyta atau Sphenophyta atau Arthrophyta dan Pterophyta atau Filicophyta (Smith,1972).

Menurut Backer (1939), berdasarkan habitatnya, tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

  • Paku Tanah

Tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini iaah paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok dan tebing terjal. Holtum (1968) merinci paku tanah menjadi dua bagian yaitu:

  1. 1.    Paku Pemanjat, Tumbuhan ini mempunyai rimpang yang ramping dan panjang, berakar dalam tanah,memanjat pohon tapi tidak epifit. Beberapa contohnya adalah Bolbitis heteroclita Ching, Lomagramma J. Smith, Teratophyllum Mettenius, Lindsaya macracana.
  2. 2.    Paku batu-batuan dan tebing sungai, Tumbuhan paku jenis ini tumbuh pada batu-batuan atau pada tebing sungai, menyukai kelembaban. Rimpangnya menjalar pada permukaan batuan dan akar-akarnya masuk ke celah-celah batu. Contohnya yaitu Pteris sericea Ching, Dipteris lobbiana (Hk.) Moore, Lindsaya lucida Bl., L. Nitida Bl.
  • Paku Epifit

Jenis tumbuhan ini hidup pada tumbuhan lain, terutama yang berbentuk pohon. Holtum (1968) membagi paku epifit menjadi dua macam yaitu:

  1. Epifit pada tempat-tempat terlindung, tumbuhan ini tumbuh pada bagian bawah pohon di hutan terutama dekat aliran air atau di tempat-tempat yang dibayangi pegunungan. Contohnya antara lain anggota Hymenophyllaceae, Antrophyum callifolium Bl., Asplenium tenerum Forst.
  2. Epifit pada tempat-tempat terbuka, tumbuhan ini terdapat pada tempat yang terkena sinar matahari langsung atau agak teduh dan tahan terhadap angin. Contohnya antara lain: Drynaria J. Smith, Asplenium nidus L., Platycerium Desvaux, Pyrrosia Mirbel, Drymoglossum Presl.
  • Paku Akuatik

Tumbuhan yang termasuk kelompok ini mengapung bebas di permukaan air. Contohnya ialah anggota famili Salviniaceae dan Marsileaceae.

Selain itu terdapat juga tumbuhan paku yang sebagian hidupnya berada pada air, misalnya Acrosticum aureum L. Pada daerah mangrove Tectaria semibinnata (Wall.) C. Chr. Pada daerah pasang surut, Ceratopteris thalictroides Brongn. Pada perairan dangkal.

Hampir semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Tetapi ada pula yang berupa pohon, misalnya pada anggota Cyatheaceae (Haupt, 1953). Pada umumnya akar dari tumbuhan paku adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom. Ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Namun tidak semua tumbuhan paku mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales, fungsi akarnya digantikan oleh rizoid.

Letak akar dari tumbuhan paku bermacam-macam, antara lain pada sepanjang bagian bawah rimpang yang menjalar, misalnya Lycopodium, pada seluruh permukaan rimpang, misalnya pada Pteris biaurita, pada pangkal rimpang yang tegak, misalnya Adiantum, pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya, misalnya Marsilea crenata. Akar pada Selaginellales terbentuk pada ujung rizofora yaitu percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang (Haupt,1959).

Bentuk akar ada yang tipis, keras atau kasar, ada pula yang tebal dan berdaging, misalnya pada bangsa Marattiales. Warnanya ada yang hitam atau coklat tua (Vasishta,1972).

Semua batang tumbuhan paku cenderung berupa rimpang karena pada umunya arah tumbuhnyamenjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak, misalnya pada Cyatheaceae. Diantara beberapa jenis tumbuha paku (yang termasuk Equisetaceae, Lycopodiaceae, dan Psilotaceae), disamping mempunyai rimpang juga mempunyai cabang dengan arah tumbuh tegak atu menggantung. Sedangkan batang pada Selaginellaceae arah tumbuhnya menjalar atau tegak (Backer,1939).

Permukaan tumbuhan paku tidak selalu halus, tetapi kadang dihiasi dengan bentukan tertentu. Diantara bentukan tersebut yaitu:

  1. Duri, misalnya pada Teratophillum Mettenius
  2. b.    Rambut-rambut uniseluler, misanya pada Selaginella braunii, S. biformis, S. vogelii.
  3. c.    Ramenta, Bentukan seperti rambut yang terletak pada rimpang atau sering pula pada tangkai daun, tulang dan urat daun, juga dapat berbentuk perisai, misalnya pada Lycopodium L.
  4. d.    Lapisan lilin yang berwarna putih atau kebiruan, misalnya pada Davallia corniculata
  5. e.    Lubang-lubang yang biasanya ditempati semut
  6. f.      Sisa-sisa tangkai

Daun tumbuhan paku terbagi menjadi bermacam-macam bagian. Berdasarkan tulang daunnya, dapat dibedakan:

  1. Sisik, daun ini tidak mempunyai tulang daun meskipun pada pangkal masing-masing daun dihubungkan dengan jaringan pembuluh, mislanya anggota Psilotales.
  2. Mikrofil, daun ini mempunyai tulang daun tunggal tak bercabang dari pangkal ke ujung, misalnya anggota Lycopodiales, Selaginellales dan Equisetaceae.
  3. Makrofil/ Megafil, daun ini mempunyai tulang daun dengan sistem percabangan baik terbuka atau tertutup.

Menurut Tjitrosoepomo (1981) beradasarkan fungsinya, daun tumbuhan paku dibedakan menjadi dua, yaitu:

a)    Tropofil (daun steril), daun yang hanya berfungsi untuk fotosintesis.

b)    Sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis.

Daun tumbuhan paku mempunyai bentuk yang khas, yang berbeda dengan tumbuhan lain, sehingga biasa disebut ental (frond). Tangkai enta disebut tangkai (stipe) untuk membedakan dari tangkai yang lain. Bagian pipih ental sering disebut lamina yang bisa berbentuk tunggal atau terbagi-bagi menjadi beberapa atau banyak anak daun yang tersusun menjari atau sebagian besar menyirip. Tiap anak daun yang menyirip disebut dengan sirip (pinna) dan poros tempat sirip berada disebut rakis (rachis).Tepi anak daun yang terbagi oleh tulang daun di sisi yang menuju ujung ental disebut akroskopi, yang menuju pangkal ental disebut basiskopi (Holttum,1968).

Berdasarkan ukuran daunnya, tumbuhan paku dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a)    Isofil, yaitu daun-daun yang mempunyai ukuran sama atau serupa.

b)    Anisofil, yaitu daun-daunnya terdiri dari 2 ukuran yaitu yang satu lebih besar dari yang lain.

Pada beberapa tumbuhan paku, selain memiliki ciri umum, juga memiliki ciri khusus, antara lain yaitu:

  1. Vernasi bergelung, daun mudanya menggelung, yang akan membuka jika telah dewasa, akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan atas dari pada permukaan pada perkembangan awalnya.
  2. Dimorfisme, antara tropofil dan sporofil terdapat dalam satu individu, berbeda bentuk dan ukurannya saja.
  3. Daun tereduksi, terdapat pada daun yang majemuk menyirip.
  4. Daun sarang, daun ini berukuran cukup kecil, cepat kehilangan hijau daun dan fungsi asimilasinya.
  5. Ligula, Pada bagian bawah daun Pada Selaginella terdapat suatu lembaran kecil yang disebut lidah (ligula) yang berfungsi sebagai penghisap air
  6. Daun penumpu, pada pangkal tangkai daun dari Marattiaceae terdapat sepasang lembaran yang disebut daun penumpu.

Setelah mengetahui ciri umum dan ciri khusus dari tumbuhan paku, maka akan dapat dilakukan sebuah pengamatan tumbuhan paku. Pada pengamatan kali ini, pengamatan dilakukan di Coban Talun, Malang. Pengamatan ini dilakukan pada tangga 18 Maret 2012. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan paku yang ada di Coban Talun.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Marsilea crenata

Irfatun Nihayah (10620105)

                               

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Pteridopsida

Ordo    Salviniales

Famili  Marsileaceae

Genus Marsilea

Spesies   Marsilea crenata

(www.plantamor.com)

Marsilea crenata biasa disebut dengan semanggi. Semanggi adalah sekelompok paku air dari bangsa Salviniales pada marga Marsileaceae. Tumbuhan ini hidup di pematang sawah atau di tepi saluran irigasi. Tumbuhan ini bisa disebut dengan tumbuhan herba karena bisa dimanfaatkan sebagai obat  (Sulisetijono,2011).

Semanggi merupakan salah satu jenis paku air. Bentuk entalnya berbentuk payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Ciri khas dari semanggi atau Marsilea crenata adalah bentuk daunnya yang berbentuk seperti kipas atau jantung terbalik. Warna daunnya hijau muda dengan permukaan halus dan peruratannya sejajar. Letak rimpangnya teretak pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya. Akarnya merupakan percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang. Bentuk akar dari semanggi yaitu serabut, tipis dan kasar. Warnanya coklat muda atau putih kecoklatan  (Sulisetijono,2011).

Batang dari paku ini berupa rimpang dan arah tumbuhnya menjalar. Batangnya panjang berbentuk silinder dan ramping, teksturnya berdaging. Permukaan batangnya licin dan tampak berserat. Batangnya tidak bercabang atau disebut dengan monopodial. Tetapi tumbuhan ini tidak tumbuh tinggi atau hanya setinggi rumput-rumputan yang pendek.

Semanggi mempunyai vernasi bergulung. Daun mudanya bergelung yang akan membuka bila telah dewasa, hal itu disebabkan karena akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun atas daripada permukaan bawah pada perkembangan awalnya (Sulisetijono,2011).

Semanggi bersifat heterospore. Organ penyimpan spora pada semanggi yaitu sporokarp. Terletak di bawah permukaan tanah atau pada akarnya. Sporangium dilindungi oleh indisium, dimana indisiumnya adalah indisium sejati karena bukan terbentuk dari daun yang melengkung (Suisetijono,2011).

Siklus hidup Marsilea crenata disebut dengan tahap metagenesis. Tahapan metagenesis terbagi menjadi dua bagian yaitu:

1. gametofit

Fase gametofit merupakam fase yang sangat dominan untuk jenis paku heterospora. Semanggi memproduksi 2 jenis spora yang berlainan ukuran.untuk ukuran spora yang besar sering disebut dengan makrospora. Sedangknan untuk spora ukuran kecil sering disebut dengan mikrospora.mikrospora yang terdiri haploid akan selanjutnya berkembang menjadi mikroprotalium. Sedangkan makrosopra selanjutnya akan melakukan perkembangan menjadi makroprotalium sebagai calon sel gamet betina. Mikroprotalium yang telah sebelumnya mengalami perkembangan dari mikrospora,selanjutnya akan melakukan perkembangan lagi membentuk calon alat kelamin jantan/ anteridium. Sedangkan sel gamet betina yang sebagai calonya dibentuk dari perkembangan makroprotalium yang selanjutnya akan berkembang menjadi archegonium yang merupakan calon sel gamet betina.

Selanjutnya anteridium akan melakukan perkembangan kembali membentuk sel spermatozoid. Sel spermatozoid yang dihasilkan pada tumbuhan marsilea crenata ukuranya sangat keci,dan memerlukan medium air untuk dapat melakukan pembuahan. Sedangakan pada archegonium selanjutnya akan membentuk sel telur/ ovum sebagai alat kelamin betrina. Ovum dan spermatozoa sebelum dikeluarkan dari spermatogonium dan oo gonium.terdapat kotak soruis yang menyelingkupi keduanya.setelah kedua gamet terbentuk kemudian melanjutkan proses pembuahan antara sel spermatozoid dengan sel telur. Sel spermatozoin haploid dan sel ovum haploid juga. Jadi pada akhir tahap dari gametofit menghasilkan zigot yangt bersifat diploid.

2. Fase sporofit

Fase sporofit dimulai dari perkembangan dari zigot yang memiliki sel diploid melakukan perkembangan dengan membentuk tumbuhan paku heterospora/ Marsila crenata. Perkembangan selanjutnya adlah pembentukan dua jenis spora: yaitu Makrosporofil (ukuran spora yang besar) dan Mikrosporofil(ukuran spora yang kecil).tahap selanjutnya adalah pembentukan makrosporangium dan mikrospongium sebagai tempat pembentukan sel gamet jantan dan sel gamet betina.

Selain dimanfaatkan sebagai obat, semanggi juga bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Dapat diolah sebagai berbagai macam olahan makanan.

 

 

 

 

 

2.2.Adiantum radiannum

Irfatun nihayah(10620105)

                              

 

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Filicopsida

Ordo    Polypodiales

Famili  Pteridaceae

Genus Adiantum

Spesies Adiantum radiannum

(www.plantamor.com)

Adiantum radianum termasuk dalam famili Adiantaceae, atau bisa disebut dengan paku suplir. Daun dari paku ini majemuk dengan ujung daun tidak rata atau bisa dikatakan bergerigi. Tangkai daun berukuran kecil, daun tumbuh langsung dari batang. Daun paku ini berbentuk seperti sisik ikan dan tidak mempunyai tulang daun, meskipun pada pangkalnya terdapat tangkai daun(Sulisetijono,2011).

Daun dari paku suplir termasuk dalam jenis sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis. Warna daunnya hijau muda dan cenderung membulat. Sporangium terletak pada ujung daun, dengan bentuk daunnya tetap sama dengan daun fertil. Daun fertil atau sporofil berfungsi untuk penyebaran spora, oleh karena itu letak sporofil jauh dari permukaan tanah.  (Sulisetijono,2011).

Paku suplir mempunyai batang berbentuk silinder kecil dan ramping berwarna coklat kehitaman. Permukaan batangnya licin, dan pada beberapa spesies batangnya dilapisi oleh lapisan lilin yang berwarna putih kebiruan. Batangnya bercabangdua, atau disebut dengan dikotom. Pada ujung batang terdapat satu daun. Batangnya tumbuh dari rhizoma dalam bentuk melingkar. Percabangan dari paku suplir adalah cabang dikotom.

Paku suplir mempunyai akar serabut berwarna coklat kehitaman. Batangnya tegak ke atas. Paku ini berkembangbiak dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun, tepatnya di ujung daun tanaman yang sudah dewasa. Sorus merupakan kluster-kluster padasisi bawah daun bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium dan dilindungi oleh indisium.

Diantum hidup liar di daerah lembab atau dari tanah. Tetapi sekarang Adiantum juga dapat digunakan sebagia tanaman hias.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3.Aspidium lobatum

Irfatun Nihayah (10620105)

                               

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Pteridopsida

Ordo    Polypodiales

Famili  Polypodiacea

Genus             Aspidium

Spesies   Aspidium lobatum

(www.plantamor.com)

Tanaman ini biasanya hidup pada daerah yang kering dan tandus. Akan tetapi tidak jarang juga ditemukan di daerah yang lembab seperti di pegunungan. Aspidium bisa disebut juga dengan Aculeatum. Aspidium termasuk dalam famii Dryopteridaceae. Tanaman ini termasuk tumbuhan terrestrial. Hidup di atas batu atau tumbuh langsung dari tanah. Aspidium mempunyai daun yang berbentuk lancet. Termasuk daun majemuk dengan tepi daun tidak rata, atau bertoreh. Ujung daunnya meruncing. Daunnya berwarna hijau, tipis, dan lunak. Daunnya mudah sekali layu. 

Batang dari tumbuhan ini berbentuk silinder berdaging berwarna hijau. Batang tumbuh merambat atau tegak, kadang bercabang. Permukaan batangya licin atau halus. Daunnya adalah daun majemuk, dengan tepii daun bertoreh dan ujungnya meruncing. Tangkai daun agak panjang dan sifatnya menyerupai batangnya.

Sori ditanggung oleh pembuluh atau di ujung daun (tetapi biasanya tidak marjinal), atau sporangia acrostichoid, menutupi permukaan abaxial, jika dalam sori diskrit maka terbagi menjadi beberapa bentuk (bulat, lonjong, atau memanjang), tidak mempunyai wadah atau hanya sedikit , dengan atau tanpa indusium dengan berbentuk linier, melengkung lancip, atau reniform, kadang-kadang hoodlike, cuplike, atau indusium bulat. Sporangia dengan tangkai dari 2 – 3 baris sel; anulus vertikal, tertumpu oleh tangkai. Spora 1 jenis, biasanya tidak hijau (kecuali Matteuccia, Onoclea), lonjong atau reniform. Secara garis besar, monolete, berbagai ornamen (sering secara luas bersayap), 64 per sporangium (32 di apogamous spp.). Gametophytes hijau, di atas tanah, berbentuk hati, gundul atau sering bantalan kelenjar atau rambut; archegonia dan antheridia ditanggung pada permukaan bawah, antheridia bersel 3.

BAB III

KESIMPULAN

Tumbuhan paku mempunyai keragaman jenis yang sangat banyak. Dalam satu marga terdapat banyak sekali macam-macam jenisnya. Dari satu marga, spesies yang ditemukan sangat beragam, seperti pada marga Adiataceae, Aspleniaceae, Lycopodiaceae dan lai sebagainya. Hal itu disebabkan karena perbedaan bentuk (walaupun sedikit) pada tumbuhan paku dapat dimungkinkan untuk perbedaan penamaan pula.

Pada pengamatan yang telah dilakukan di Coban Talun, didapatkan sedikitnya ada 30 spesies tumbuhan paku. Spesies-spesies tersebut terbagi dalam beberapa genus. Spesies-spesies tersebut dari genus Adiantum, Equisetum, Lycopodium, Nephrolepis, Platycerium, Drymoglossum, Asplenium, Taenitis, Pyrrosia, Barinea, Selaginella, Marsilea, Bechum, Osmunda, Aspidium, Diplazium, dan Davalia. Namun, pada laporan ini hanya ada 3 spesies yang dapat dibahas karena untuk menjaga kelestarian spesies tersebut.

Selain dari spesies-spesies yang telah disebutkan di atas juga dimungkinkan masih terdapat banyak spesies lain yang ada dan tidak terjangkau oleh pengamat. Oleh karena itu, diharapkan masih ada generasi penerus yang akan mengamati spesies yang lain di Coban Talun atau di tempat-tempat yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

A.R.Smith, A.R.Kathleen M. Pryer, E. Schuettpelz, P.Korall, H. Schneider & P.Gbuh. Wolf.2006. A Classification for Extant Fernshttp://commons.wikimedia.org

Holttum, R.E.1972. Cyatheaceae in Flora Maesiana.Vol.6.Serie II.Groningen: Noordhoff publishing

Sulisetijono,2011.Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang:UIN Press

Tjitrosoepomo,Gembong.1994.Taksonomi Tumbuhan Thallophyta, Schizophyta, Bryophyta, Pteridophyta.Yogyakarta:UGM Press

http://www.plantamor.com/klasifikasi

Makalah Tumbuhan Paku

BAB I

PENDAHULUAN

Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah, karena meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus, serta mempunyai sistem pembuluh tetapi blm menghasilkan biji, dan alat perkembangbiakan yang lain. Alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Jadi penempatan tumbuhan paku ke dalam golongan tingkat rendah atau tinggi bisa berbeda-beda tergantung sifat yang digunakan sebagai dasar. Jika didasarkan pada macam alat perkembangbiakannya, maka sebagai tumbuhan berspora tergolong tumbuhan tingkat rendah. Namun, jika didasarkan pada ada atau tidaknya sistem pembuluh, tumbuhan paku dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi karena sudah mempunyai berkas pembuluh (Tjitrosoepomo,1994).

Meskipun tumbuhan paku mempunyai akar, batang dan daun, tetapi untuk yang primitif daunnya masih sangat sederhana. Tumbuhan paku belum mempunyai lamina dan masih dinamakan mikrofil. Anggota dari Pteridophyta mempunyai habitus yang heterogen, dari yang berukuran kecil sampai yang besar (Tjitrosoepomo,1994).

Sebagai tumbuhan tingkat rendah, Pteridophyta lbih maju dari pada Bryophyta karena sudah mempunyai berkas pembuluh. Sporofitnya hidup bebas dan berumur panjang, sudah ada akar sejati, dan sebagian sudah merupakan tumbuhan heterospor (Tjitrosoepomo,1994).

Sementara itu, ahli taksonomi yang lain (Eichler,1883) juga membagi tumbuhan menjadi dua kelompok berdasarkan atas letak alat-alat kelaminnya, yaitu:

  1. Cryptogamae: Tumbuhan yang alat perkawinannya tersembunyi di dalam. Yang termasuk kelompok ini adalah Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta dan Pteridophyta. Kelompok ini juga bisa dianggap sebagai golongan tumbuhan tingkat rendah.
  2. Phanerogamae: Tumbuhan yang alat perkawinannya terihat mencolok. Yang termasuk kelompok ini adalah Spermatophyta yang juga dapat dianggap sebagai golongan tumbuhan tingkat tinggi.

Selanjutnya kelompok Cryptogamae itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua golongan yang didasarkan atas ada atau tidaknya sistem pembuluh, yaitu:

  1. Non-vascular Cryptogamae, termasuk dalam golongan ini yaitu Schizophyta, Thallophyta dan Bryophyta.
  2. Vascular Cryptogamae, termasuk dalam golongan ini yaitu Pteridophyta.

Seperti halnya dengan Bryophyta, di dalam siklus hidup Pteridophyta juga terdapat pergantian generasi. Individu yang menghasilkan gamet diberi nama gametofit dan merupakan generasi yang haploid. Setelah terjadi fertilisasi akan terbentuk zigot yang merupakan permulaan dari keturunan (generasi) yang diploid. Kemudian dari sini terbentuk individu yang diploid dan diberi nama sporofit. Sporofit merupakan individu yang menghasilkan spora melalui pembelahan reduksi. Jadi, spora ini merupakan permulaan dari generasi yang haploid. Dari spora ini akan terbentuk protalium (protalus) melalui perkecambhan dari spora (Suisetijiono,2011).

Perbedaannya dengan Bryophyta ialah, pada tumbuhan paku yang dikenal sebagai tumbuhannya adalah aporofit, sedangkan pada tumbuhan lumut, yang dikenal sebagai tumbuhannya adalah gametofit. Kemudian beberapa tumbuhan paku ada yang bersifat heterospor sehingga dijumpai adanya makrogametofit dan mikrogametofit. Selain dari pada itu sporofit dari tumbuhan paku dapat hidup bebas, hanya pada tingkatan permulaan dari pertumbuhannya saja bergantung secara fisiologis dan gametofit (Sulisetijono,2011).

Pada Pteridophyta juga dimungkinkan terjadi penyimpangan dari siklus hidup yang normal, yaitu adanya peristiwa apogami dan apospori. Apogami ialah terbentuknya sporofit langsung dari gametofit tanpa melalui persatuan dari gamet-gamet. Sporofit yang terjadi dari peristiwa apogami mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan gametofit. Terjadinya apogami disebabkan karena terbentuknya tunas pada protalium yang langsugn tumbuh menjadi sporofit, atau karena sel telur yang tumbuh menjadi sporofit tanpa terjadi fertilisasi terlebih dahulu (partogenesis). Peristiwa apogami ini dapat terjadi pada jenis Dryopteris, Pteris, Adiantum, diplazium, Asplenium, Osmunda, Lycopodium, Equisetum dan Polypodium (Sulisetijono,2011).

Apospori ialah terbentuknya protalium dari sporofit tanpa melalui pembentukan spora. Protalium yang terjadi dari peistiwa apospori juga mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan sporofit. Terjadinya apospori dapat disebabkan karena timbulnya filamen dari jaringan sporofit yang kemudian menjadi protalium serta hanya membentuk anteridium karena biasanya tidak membentuk arkegonium, atau disebabkan karena jaringan sporofit yang dapat membentuk protalium tadi kemungkinan dari tangkai sporangium, dari daun dan juga dari jaringan steril pada sorus. Peristiwa apospori dapat terjadi pada jenis Trichomanes, Pteridium aquilium, Asplenium demorphum, Osmunda regalis, Osmunda javanica, Tectaria trifoliata da Pteris cretica (Sulisetijono,2011).

Tumbuhan paku dimasukkan dalam divisi tersendiri yaitu Pteridophyta, yang dapat dibedakan atas beberapa kelas yaitu Psilophytineae, Lycopodiineae, Equisetanae, dan Filicanae. Tippo (1942) dalam Pandey (1977), memasukkan tumbuhan paku daam Tracheophyta bersama Gymnospermae dan Angiospermae (Smith,1972).

Lycopsida, Sphenopsida dan Pteropsida. Wardlaw (1955) dalam Pandey (1977) sependapat dengan Tippo, akan tetapi berdasarkan International Rules of Botanical Nomenclature, istilah filum dan sub-filum digunakan dalam zoologi, maka empat sub-filum tersebut dimasukkan dalam e,pat sub-divisi dengan nama tetap seperti yang telah disebut di atas. Sedangkan menurut Smith (1972) dan Vasisht (1972), paku-pakuan terbagi atas empat divisi, yaitu Psilophyta, Lepidophyta atau Lycophyta, Calamophyta atau Sphenophyta atau Arthrophyta dan Pterophyta atau Filicophyta (Smith,1972).

Menurut Backer (1939), berdasarkan habitatnya, tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

  • Paku Tanah

Tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini iaah paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok dan tebing terjal. Holtum (1968) merinci paku tanah menjadi dua bagian yaitu:

  1. 1.    Paku Pemanjat, Tumbuhan ini mempunyai rimpang yang ramping dan panjang, berakar dalam tanah,memanjat pohon tapi tidak epifit. Beberapa contohnya adalah Bolbitis heteroclita Ching, Lomagramma J. Smith, Teratophyllum Mettenius, Lindsaya macracana.
  2. 2.    Paku batu-batuan dan tebing sungai, Tumbuhan paku jenis ini tumbuh pada batu-batuan atau pada tebing sungai, menyukai kelembaban. Rimpangnya menjalar pada permukaan batuan dan akar-akarnya masuk ke celah-celah batu. Contohnya yaitu Pteris sericea Ching, Dipteris lobbiana (Hk.) Moore, Lindsaya lucida Bl., L. Nitida Bl.
  • Paku Epifit

Jenis tumbuhan ini hidup pada tumbuhan lain, terutama yang berbentuk pohon. Holtum (1968) membagi paku epifit menjadi dua macam yaitu:

  1. Epifit pada tempat-tempat terlindung, tumbuhan ini tumbuh pada bagian bawah pohon di hutan terutama dekat aliran air atau di tempat-tempat yang dibayangi pegunungan. Contohnya antara lain anggota Hymenophyllaceae, Antrophyum callifolium Bl., Asplenium tenerum Forst.
  2. Epifit pada tempat-tempat terbuka, tumbuhan ini terdapat pada tempat yang terkena sinar matahari langsung atau agak teduh dan tahan terhadap angin. Contohnya antara lain: Drynaria J. Smith, Asplenium nidus L., Platycerium Desvaux, Pyrrosia Mirbel, Drymoglossum Presl.
  • Paku Akuatik

Tumbuhan yang termasuk kelompok ini mengapung bebas di permukaan air. Contohnya ialah anggota famili Salviniaceae dan Marsileaceae.

Selain itu terdapat juga tumbuhan paku yang sebagian hidupnya berada pada air, misalnya Acrosticum aureum L. Pada daerah mangrove Tectaria semibinnata (Wall.) C. Chr. Pada daerah pasang surut, Ceratopteris thalictroides Brongn. Pada perairan dangkal.

Hampir semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Tetapi ada pula yang berupa pohon, misalnya pada anggota Cyatheaceae (Haupt, 1953). Pada umumnya akar dari tumbuhan paku adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom. Ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Namun tidak semua tumbuhan paku mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales, fungsi akarnya digantikan oleh rizoid.

Letak akar dari tumbuhan paku bermacam-macam, antara lain pada sepanjang bagian bawah rimpang yang menjalar, misalnya Lycopodium, pada seluruh permukaan rimpang, misalnya pada Pteris biaurita, pada pangkal rimpang yang tegak, misalnya Adiantum, pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya, misalnya Marsilea crenata. Akar pada Selaginellales terbentuk pada ujung rizofora yaitu percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang (Haupt,1959).

Bentuk akar ada yang tipis, keras atau kasar, ada pula yang tebal dan berdaging, misalnya pada bangsa Marattiales. Warnanya ada yang hitam atau coklat tua (Vasishta,1972).

Semua batang tumbuhan paku cenderung berupa rimpang karena pada umunya arah tumbuhnyamenjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak, misalnya pada Cyatheaceae. Diantara beberapa jenis tumbuha paku (yang termasuk Equisetaceae, Lycopodiaceae, dan Psilotaceae), disamping mempunyai rimpang juga mempunyai cabang dengan arah tumbuh tegak atu menggantung. Sedangkan batang pada Selaginellaceae arah tumbuhnya menjalar atau tegak (Backer,1939).

Permukaan tumbuhan paku tidak selalu halus, tetapi kadang dihiasi dengan bentukan tertentu. Diantara bentukan tersebut yaitu:

  1. Duri, misalnya pada Teratophillum Mettenius
  2. b.    Rambut-rambut uniseluler, misanya pada Selaginella braunii, S. biformis, S. vogelii.
  3. c.    Ramenta, Bentukan seperti rambut yang terletak pada rimpang atau sering pula pada tangkai daun, tulang dan urat daun, juga dapat berbentuk perisai, misalnya pada Lycopodium L.
  4. d.    Lapisan lilin yang berwarna putih atau kebiruan, misalnya pada Davallia corniculata
  5. e.    Lubang-lubang yang biasanya ditempati semut
  6. f.      Sisa-sisa tangkai

Daun tumbuhan paku terbagi menjadi bermacam-macam bagian. Berdasarkan tulang daunnya, dapat dibedakan:

  1. Sisik, daun ini tidak mempunyai tulang daun meskipun pada pangkal masing-masing daun dihubungkan dengan jaringan pembuluh, mislanya anggota Psilotales.
  2. Mikrofil, daun ini mempunyai tulang daun tunggal tak bercabang dari pangkal ke ujung, misalnya anggota Lycopodiales, Selaginellales dan Equisetaceae.
  3. Makrofil/ Megafil, daun ini mempunyai tulang daun dengan sistem percabangan baik terbuka atau tertutup.

Menurut Tjitrosoepomo (1981) beradasarkan fungsinya, daun tumbuhan paku dibedakan menjadi dua, yaitu:

a)    Tropofil (daun steril), daun yang hanya berfungsi untuk fotosintesis.

b)    Sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis.

Daun tumbuhan paku mempunyai bentuk yang khas, yang berbeda dengan tumbuhan lain, sehingga biasa disebut ental (frond). Tangkai enta disebut tangkai (stipe) untuk membedakan dari tangkai yang lain. Bagian pipih ental sering disebut lamina yang bisa berbentuk tunggal atau terbagi-bagi menjadi beberapa atau banyak anak daun yang tersusun menjari atau sebagian besar menyirip. Tiap anak daun yang menyirip disebut dengan sirip (pinna) dan poros tempat sirip berada disebut rakis (rachis).Tepi anak daun yang terbagi oleh tulang daun di sisi yang menuju ujung ental disebut akroskopi, yang menuju pangkal ental disebut basiskopi (Holttum,1968).

Berdasarkan ukuran daunnya, tumbuhan paku dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a)    Isofil, yaitu daun-daun yang mempunyai ukuran sama atau serupa.

b)    Anisofil, yaitu daun-daunnya terdiri dari 2 ukuran yaitu yang satu lebih besar dari yang lain.

Pada beberapa tumbuhan paku, selain memiliki ciri umum, juga memiliki ciri khusus, antara lain yaitu:

  1. Vernasi bergelung, daun mudanya menggelung, yang akan membuka jika telah dewasa, akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan atas dari pada permukaan pada perkembangan awalnya.
  2. Dimorfisme, antara tropofil dan sporofil terdapat dalam satu individu, berbeda bentuk dan ukurannya saja.
  3. Daun tereduksi, terdapat pada daun yang majemuk menyirip.
  4. Daun sarang, daun ini berukuran cukup kecil, cepat kehilangan hijau daun dan fungsi asimilasinya.
  5. Ligula, Pada bagian bawah daun Pada Selaginella terdapat suatu lembaran kecil yang disebut lidah (ligula) yang berfungsi sebagai penghisap air
  6. Daun penumpu, pada pangkal tangkai daun dari Marattiaceae terdapat sepasang lembaran yang disebut daun penumpu.

Setelah mengetahui ciri umum dan ciri khusus dari tumbuhan paku, maka akan dapat dilakukan sebuah pengamatan tumbuhan paku. Pada pengamatan kali ini, pengamatan dilakukan di Coban Talun, Malang. Pengamatan ini dilakukan pada tangga 18 Maret 2012. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan paku yang ada di Coban Talun.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Marsilea crenata

Irfatun Nihayah (10620105)

                               

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Pteridopsida

Ordo    Salviniales

Famili  Marsileaceae

Genus Marsilea

Spesies   Marsilea crenata

(www.plantamor.com)

Marsilea crenata biasa disebut dengan semanggi. Semanggi adalah sekelompok paku air dari bangsa Salviniales pada marga Marsileaceae. Tumbuhan ini hidup di pematang sawah atau di tepi saluran irigasi. Tumbuhan ini bisa disebut dengan tumbuhan herba karena bisa dimanfaatkan sebagai obat  (Sulisetijono,2011).

Semanggi merupakan salah satu jenis paku air. Bentuk entalnya berbentuk payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Ciri khas dari semanggi atau Marsilea crenata adalah bentuk daunnya yang berbentuk seperti kipas atau jantung terbalik. Warna daunnya hijau muda dengan permukaan halus dan peruratannya sejajar. Letak rimpangnya teretak pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya. Akarnya merupakan percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang. Bentuk akar dari semanggi yaitu serabut, tipis dan kasar. Warnanya coklat muda atau putih kecoklatan  (Sulisetijono,2011).

Batang dari paku ini berupa rimpang dan arah tumbuhnya menjalar. Batangnya panjang berbentuk silinder dan ramping, teksturnya berdaging. Permukaan batangnya licin dan tampak berserat. Batangnya tidak bercabang atau disebut dengan monopodial. Tetapi tumbuhan ini tidak tumbuh tinggi atau hanya setinggi rumput-rumputan yang pendek.

Semanggi mempunyai vernasi bergulung. Daun mudanya bergelung yang akan membuka bila telah dewasa, hal itu disebabkan karena akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun atas daripada permukaan bawah pada perkembangan awalnya (Sulisetijono,2011).

Semanggi bersifat heterospore. Organ penyimpan spora pada semanggi yaitu sporokarp. Terletak di bawah permukaan tanah atau pada akarnya. Sporangium dilindungi oleh indisium, dimana indisiumnya adalah indisium sejati karena bukan terbentuk dari daun yang melengkung (Suisetijono,2011).

Siklus hidup Marsilea crenata disebut dengan tahap metagenesis. Tahapan metagenesis terbagi menjadi dua bagian yaitu:

1. gametofit

Fase gametofit merupakam fase yang sangat dominan untuk jenis paku heterospora. Semanggi memproduksi 2 jenis spora yang berlainan ukuran.untuk ukuran spora yang besar sering disebut dengan makrospora. Sedangknan untuk spora ukuran kecil sering disebut dengan mikrospora.mikrospora yang terdiri haploid akan selanjutnya berkembang menjadi mikroprotalium. Sedangkan makrosopra selanjutnya akan melakukan perkembangan menjadi makroprotalium sebagai calon sel gamet betina. Mikroprotalium yang telah sebelumnya mengalami perkembangan dari mikrospora,selanjutnya akan melakukan perkembangan lagi membentuk calon alat kelamin jantan/ anteridium. Sedangkan sel gamet betina yang sebagai calonya dibentuk dari perkembangan makroprotalium yang selanjutnya akan berkembang menjadi archegonium yang merupakan calon sel gamet betina.

Selanjutnya anteridium akan melakukan perkembangan kembali membentuk sel spermatozoid. Sel spermatozoid yang dihasilkan pada tumbuhan marsilea crenata ukuranya sangat keci,dan memerlukan medium air untuk dapat melakukan pembuahan. Sedangakan pada archegonium selanjutnya akan membentuk sel telur/ ovum sebagai alat kelamin betrina. Ovum dan spermatozoa sebelum dikeluarkan dari spermatogonium dan oo gonium.terdapat kotak soruis yang menyelingkupi keduanya.setelah kedua gamet terbentuk kemudian melanjutkan proses pembuahan antara sel spermatozoid dengan sel telur. Sel spermatozoin haploid dan sel ovum haploid juga. Jadi pada akhir tahap dari gametofit menghasilkan zigot yangt bersifat diploid.

2. Fase sporofit

Fase sporofit dimulai dari perkembangan dari zigot yang memiliki sel diploid melakukan perkembangan dengan membentuk tumbuhan paku heterospora/ Marsila crenata. Perkembangan selanjutnya adlah pembentukan dua jenis spora: yaitu Makrosporofil (ukuran spora yang besar) dan Mikrosporofil(ukuran spora yang kecil).tahap selanjutnya adalah pembentukan makrosporangium dan mikrospongium sebagai tempat pembentukan sel gamet jantan dan sel gamet betina.

Selain dimanfaatkan sebagai obat, semanggi juga bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Dapat diolah sebagai berbagai macam olahan makanan.

 

 

 

 

 

2.2.Adiantum radiannum

Irfatun nihayah(10620105)

                              

 

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Filicopsida

Ordo    Polypodiales

Famili  Pteridaceae

Genus Adiantum

Spesies Adiantum radiannum

(www.plantamor.com)

Adiantum radianum termasuk dalam famili Adiantaceae, atau bisa disebut dengan paku suplir. Daun dari paku ini majemuk dengan ujung daun tidak rata atau bisa dikatakan bergerigi. Tangkai daun berukuran kecil, daun tumbuh langsung dari batang. Daun paku ini berbentuk seperti sisik ikan dan tidak mempunyai tulang daun, meskipun pada pangkalnya terdapat tangkai daun(Sulisetijono,2011).

Daun dari paku suplir termasuk dalam jenis sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai organ untuk fotosintesis. Warna daunnya hijau muda dan cenderung membulat. Sporangium terletak pada ujung daun, dengan bentuk daunnya tetap sama dengan daun fertil. Daun fertil atau sporofil berfungsi untuk penyebaran spora, oleh karena itu letak sporofil jauh dari permukaan tanah.  (Sulisetijono,2011).

Paku suplir mempunyai batang berbentuk silinder kecil dan ramping berwarna coklat kehitaman. Permukaan batangnya licin, dan pada beberapa spesies batangnya dilapisi oleh lapisan lilin yang berwarna putih kebiruan. Batangnya bercabangdua, atau disebut dengan dikotom. Pada ujung batang terdapat satu daun. Batangnya tumbuh dari rhizoma dalam bentuk melingkar. Percabangan dari paku suplir adalah cabang dikotom.

Paku suplir mempunyai akar serabut berwarna coklat kehitaman. Batangnya tegak ke atas. Paku ini berkembangbiak dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun, tepatnya di ujung daun tanaman yang sudah dewasa. Sorus merupakan kluster-kluster padasisi bawah daun bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium dan dilindungi oleh indisium.

Diantum hidup liar di daerah lembab atau dari tanah. Tetapi sekarang Adiantum juga dapat digunakan sebagia tanaman hias.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3.Aspidium lobatum

Irfatun Nihayah (10620105)

                               

Klasifikasi

Kingdom          Plantae

Subkingdom    Tracheobionta

Divisi   Pteridophyta

Kelas   Pteridopsida

Ordo    Polypodiales

Famili  Polypodiacea

Genus             Aspidium

Spesies   Aspidium lobatum

(www.plantamor.com)

Tanaman ini biasanya hidup pada daerah yang kering dan tandus. Akan tetapi tidak jarang juga ditemukan di daerah yang lembab seperti di pegunungan. Aspidium bisa disebut juga dengan Aculeatum. Aspidium termasuk dalam famii Dryopteridaceae. Tanaman ini termasuk tumbuhan terrestrial. Hidup di atas batu atau tumbuh langsung dari tanah. Aspidium mempunyai daun yang berbentuk lancet. Termasuk daun majemuk dengan tepi daun tidak rata, atau bertoreh. Ujung daunnya meruncing. Daunnya berwarna hijau, tipis, dan lunak. Daunnya mudah sekali layu. 

Batang dari tumbuhan ini berbentuk silinder berdaging berwarna hijau. Batang tumbuh merambat atau tegak, kadang bercabang. Permukaan batangya licin atau halus. Daunnya adalah daun majemuk, dengan tepii daun bertoreh dan ujungnya meruncing. Tangkai daun agak panjang dan sifatnya menyerupai batangnya.

Sori ditanggung oleh pembuluh atau di ujung daun (tetapi biasanya tidak marjinal), atau sporangia acrostichoid, menutupi permukaan abaxial, jika dalam sori diskrit maka terbagi menjadi beberapa bentuk (bulat, lonjong, atau memanjang), tidak mempunyai wadah atau hanya sedikit , dengan atau tanpa indusium dengan berbentuk linier, melengkung lancip, atau reniform, kadang-kadang hoodlike, cuplike, atau indusium bulat. Sporangia dengan tangkai dari 2 – 3 baris sel; anulus vertikal, tertumpu oleh tangkai. Spora 1 jenis, biasanya tidak hijau (kecuali Matteuccia, Onoclea), lonjong atau reniform. Secara garis besar, monolete, berbagai ornamen (sering secara luas bersayap), 64 per sporangium (32 di apogamous spp.). Gametophytes hijau, di atas tanah, berbentuk hati, gundul atau sering bantalan kelenjar atau rambut; archegonia dan antheridia ditanggung pada permukaan bawah, antheridia bersel 3.

BAB III

KESIMPULAN

Tumbuhan paku mempunyai keragaman jenis yang sangat banyak. Dalam satu marga terdapat banyak sekali macam-macam jenisnya. Dari satu marga, spesies yang ditemukan sangat beragam, seperti pada marga Adiataceae, Aspleniaceae, Lycopodiaceae dan lai sebagainya. Hal itu disebabkan karena perbedaan bentuk (walaupun sedikit) pada tumbuhan paku dapat dimungkinkan untuk perbedaan penamaan pula.

Pada pengamatan yang telah dilakukan di Coban Talun, didapatkan sedikitnya ada 30 spesies tumbuhan paku. Spesies-spesies tersebut terbagi dalam beberapa genus. Spesies-spesies tersebut dari genus Adiantum, Equisetum, Lycopodium, Nephrolepis, Platycerium, Drymoglossum, Asplenium, Taenitis, Pyrrosia, Barinea, Selaginella, Marsilea, Bechum, Osmunda, Aspidium, Diplazium, dan Davalia. Namun, pada laporan ini hanya ada 3 spesies yang dapat dibahas karena untuk menjaga kelestarian spesies tersebut.

Selain dari spesies-spesies yang telah disebutkan di atas juga dimungkinkan masih terdapat banyak spesies lain yang ada dan tidak terjangkau oleh pengamat. Oleh karena itu, diharapkan masih ada generasi penerus yang akan mengamati spesies yang lain di Coban Talun atau di tempat-tempat yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

A.R.Smith, A.R.Kathleen M. Pryer, E. Schuettpelz, P.Korall, H. Schneider & P.Gbuh. Wolf.2006. A Classification for Extant Fernshttp://commons.wikimedia.org

Holttum, R.E.1972. Cyatheaceae in Flora Maesiana.Vol.6.Serie II.Groningen: Noordhoff publishing

Sulisetijono,2011.Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang:UIN Press

Tjitrosoepomo,Gembong.1994.Taksonomi Tumbuhan Thallophyta, Schizophyta, Bryophyta, Pteridophyta.Yogyakarta:UGM Press

http://www.plantamor.com/klasifikasi